Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

SOSBUD · 10 Jan 2026 18:30 WIB ·

Bukan Sekadar Proyek, Pendamping Desa Jepara Rawat Toleransi


					Kegiatan Bhakti Desa Hari Desa Nasional Perbesar

Kegiatan Bhakti Desa Hari Desa Nasional

Jepara, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Hari Desa Nasional 2026 di Kabupaten Jepara diperingati dengan cara yang tidak biasa. Alih-alih hanya berkutat pada administrasi pembangunan atau laporan dana desa, para Pendamping Desa di wilayah ini justru turun ke lapangan untuk melakukan “Bhakti Desa” berupa aksi bersih-bersih tempat ibadah lintas agama secara serentak, Sabtu (10/1/2026).

Aksi ini memotret sisi lain dari peran pendamping desa yang sering kali hanya dilihat sebagai pengawal regulasi. Di tangan mereka, Hari Desa Nasional menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa “desa yang mandiri” adalah desa yang kokoh secara sosial dan harmonis dalam keberagaman.

Menyisir Tempat Ibadah Lintas Keyakinan
Aksi bersih-bersih ini menyasar lokasi-lokasi religi yang menjadi simbol keberagaman di Jepara, mulai dari Pura Dharma Loka dan Pura Giri Tungka, Masjid Wali Kenduren Pancur, hingga Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Ngeling. Lokasi-lokasi ini dipilih untuk mengirimkan pesan kuat bahwa gotong royong di desa tidak mengenal batas keyakinan.

Farida Zuyuni, koordinator kegiatan, menjelaskan bahwa gerakan ini bertujuan untuk merawat rasa memiliki terhadap fasilitas publik sekaligus mempererat benang toleransi. “Pendamping Desa harus hadir di jantung kehidupan sosial, bukan hanya dalam urusan teknis pemberdayaan. Kami ingin menjaga nilai kerukunan yang merupakan identitas asli masyarakat desa kita,” tuturnya.

Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Energi Baru
Gerakan ini tidak berjalan sendiri. Sinergi nyata terlihat dari dukungan Dinsospermasdes Kabupaten Jepara, KUA Kementerian Agama Kecamatan Pakis Aji, hingga pemerintah desa setempat. Kolaborasi ini membuktikan bahwa saat instansi pemerintah bersatu dengan penggerak masyarakat, dampaknya melampaui sekadar kebersihan fisik bangunan.

Kepala Desa Plajan, H. Kartono, SE, memberikan apresiasi mendalam terhadap inisiatif ini. Menurutnya, aksi tersebut menegaskan jati diri desa sebagai ruang hidup yang inklusif. Desa bukan lagi sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang aktif menjaga karakter sosialnya.

Apresiasi serupa datang dari para pengurus tempat ibadah dan warga sekitar. Kehadiran figur Pendamping Desa yang mau “kotor-kotoran” membersihkan rumah ibadah lintas agama dianggap sebagai suntikan semangat psikologis bagi warga untuk terus hidup berdampingan secara damai.

Melalui Bhakti Desa ini, Kabupaten Jepara sekali lagi membuktikan bahwa kemajuan sebuah desa tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi dari seberapa bersih hati dan kuatnya rasa persaudaraan di antara penghuninya.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 126 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pawai 74 Nagari: Saat Budaya Jadi Napas Pembangunan

20 April 2026 - 21:17 WIB

Kebangkitan BKMT Sungai Limau: Dari Masjid Membangun Ekonomi Desa

19 April 2026 - 15:05 WIB

Satu Dekade Bobok Bumbung: Martabat Desa Lewat Bambu

19 April 2026 - 14:18 WIB

Siltap Langsung dari Pusat: PPDI Karangrejo Perkuat Barisan

18 April 2026 - 21:03 WIB

Silat Sumbar: Dari Nagari Menuju Panggung Olimpiade Dunia

13 April 2026 - 13:35 WIB

Sinergi Pers dan Aparat: Jaga Keamanan Parungpanjang Lewat Informasi

12 April 2026 - 21:12 WIB

Trending di SOSBUD