Banjir-Longsor Terjang 14 Kabupaten/Kota, Pemerintah Kerahkan Helikopter Jangkau Korban
Medan, Sumatera Utara [DESA MERDEKA] – Bencana banjir bandang dan tanah longsor skala besar melanda 14 kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut), menyebabkan sedikitnya 30 orang meninggal dunia dan memaksa lebih dari 4.000 warga mengungsi dari rumah mereka. Merespons dampak masif ini, Gubernur Sumut Bobby Nasution secara resmi telah menetapkan status darurat bencana.
Bencana ini menerjang luas, mulai dari Medan, Binjai, Deliserdang, hingga Nias Selatan. Hingga Kamis, 27 November 2025, sejumlah wilayah masih terisolasi total akibat putusnya akses jalan darat.
Dalam Rapat Koordinasi penanganan bencana bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Gubernur Bobby Nasution menyatakan prioritas utama pemerintah daerah adalah pencarian dan penyelamatan korban, layanan darurat kesehatan, serta upaya pembukaan jalur transportasi vital.
Akses Darat Terputus, Helikopter Disiagakan
Gubernur Bobby mengakui bahwa bantuan logistik telah berhasil disalurkan ke sebagian besar wilayah terdampak melalui jalur darat. Namun, kesulitan besar masih terjadi di dua daerah, yakni Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Sibolga, yang sama sekali belum dapat dijangkau karena akses jalan yang terputus total.
“Bantuan sudah masuk lewat jalur darat, tetapi untuk Tapteng dan Sibolga, kami belum bisa suplai logistik karena aksesnya masih terputus total,” jelas Bobby.
Untuk menembus wilayah yang terisolasi tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut kini berkoordinasi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dua unit helikopter telah disiagakan untuk mengangkut bantuan dan melakukan evakuasi darurat. Selain itu, Pemprov telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat multisektor, membuka pos lapangan dan pos pengungsian, serta menggalang bantuan tambahan dari BUMN, BUMD, dan para pemangku kepentingan.
Pemulihan Jaringan Komunikasi dan Bantuan Logistik
Selain masalah akses, jaringan komunikasi di sejumlah titik terdampak juga dilaporkan lumpuh total. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumut, Erwin Hotmansah Harahap, menegaskan bahwa timnya tengah berupaya keras memulihkan jaringan komunikasi vital tersebut.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut telah mengirimkan personel dan berbagai peralatan evakuasi mendesak, termasuk perahu karet, mesin perahu, genset, tenda pengungsian, perangkat komunikasi Starlink, chainsaw, hingga 42 unit lentera. BPBD juga telah menyalurkan paket bantuan senilai Rp 60 juta.
Gubernur juga memastikan pengiriman logistik tambahan, berupa 1 ton minyak goreng, 500 kilogram gula, 500 kotak teh celup, 20.000 bungkus mi instan, dan 1.000 kaleng sarden, telah dikirimkan ke wilayah yang membutuhkan.
Perintah Pusat: Tanggap Darurat dan Pemulihan Infrastruktur
Di tingkat pusat, Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa penanganan darurat di Sumut, bersama dengan Aceh dan Sumatera Barat, telah menjadi prioritas utama pemerintah. Pratikno menyampaikan perintah langsung dari Presiden untuk menangani bencana secara serius.
“Presiden memerintahkan kami serius menangani bencana tanggap darurat dan segera menyiapkan rencana pasca-darurat, karena infrastruktur harus segera pulih dan berfungsi kembali,” tegas Pratikno, menekankan fokus tidak hanya pada evakuasi, tetapi juga pada pemulihan pasca-bencana.
Team Redaksi Untuk Kiriman Rilis Berita
Email : mydesamerdeka@gmail.com


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.