Tepis Stigma ‘Wong Ndeso’, Vilantika Sukses Bangun Bisnis Feminine Care Beromzet Dua Digit dari Banyumas
Banyumas, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Stigma wong ndeso (orang desa) yang sering diidentikkan dengan keterbatasan dan minimnya peluang kini terpatahkan oleh kisah inspiratif seorang perempuan muda asal Desa Rawaheng, Wangon, Banyumas. Dia adalah Vilantika Vida Rahayu, sosok di balik merek produk feminine care yang berkembang pesat, Ammazmore. Dengan kerja keras dan konsistensi, Vida membuktikan bahwa lokasi di tengah persawahan bukan halangan untuk meraup penghasilan hingga puluhan juta rupiah per bulan.
Kisah Vida dimulai dari lingkungan yang tenang dan sederhana, jauh dari hiruk-pikuk bisnis digital. Lulusan SMK Farmasi ini mulanya hanya membayangkan masa depan yang stabil sebagai pekerja di apotek. Ia pun sempat berpindah-pindah pekerjaan, menjalani arus yang dianggap wajar bagi anak muda desa. Namun, pengalaman sederhana itu tanpa disadari menjadi fondasi yang kokoh bagi perubahan besar yang akan datang.
Pandemi Jadi Gerbang Menuju Bisnis Digital
Titik balik datang saat pandemi COVID-19 melanda. Alih-alih terpuruk, dunia digital justru membuka peluang baru bagi Vida. Ia mulai mencoba menjadi content creator dan affiliator produk orang lain. Dari pengalaman autodidak inilah ia belajar membaca kebutuhan pasar, memahami ritme bisnis online, dan menguasai teknik komunikasi dengan konsumen. Wawasan ini lantas menuntunnya pada keberanian untuk memulai usaha sendiri.
“Masa selamanya jadi anak buah?” pikirnya kala itu. Berbekal ilmu farmasi dasar dan pemahaman jualan online, Vida memutuskan membangun brand Ammazmore yang fokus pada produk perawatan area kewanitaan. Ia berani memilih segmen spesifik yang tidak banyak digarap, tetapi permintaannya tinggi, sehingga brand Ammazmore cepat dikenal.
Legalitas dan Konsistensi Jadi Pilar Utama
Keberhasilan Ammazmore dibangun di atas dua pilar utama: legalitas produk dan konsistensi. Vida menegaskan bahwa semua produk Ammazmore sudah dilengkapi legalitas BPOM yang lengkap. “Saya nggak mau jual produk yang meragukan. Legalitas itu wajib,” tegasnya.
Selain jaminan keamanan produk, konsistensi menjadi kunci pertumbuhan. Vida hampir tidak pernah mengambil hari libur. Ia melakukan live streaming setiap hari tanpa henti untuk memperkenalkan produk, menjelaskan manfaat, dan merawat loyalitas pembeli. Dari rutinitas yang disiplin inilah kurva keberhasilan Ammazmore mulai menanjak.
Membangun Kantor dan Membuka Lapangan Kerja dari Desa
Berkat konsistensi dan kerja kerasnya, bisnis Vida tumbuh signifikan. Dari yang awalnya hanya dikelola dari kamar sederhana, ia kini berhasil membangun kantor operasional kecil, gudang penyimpanan yang tertata, serta studio live streaming di desanya.
Hebatnya lagi, Vida kini mempekerjakan lebih dari empat karyawan tetap. Ia tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga turut membantu ekonomi masyarakat sekitar desa Rawaheng.
“Mereka itu bukan cuma pekerja, tapi bagian dari perjalanan saya,” ucapnya.
Saat ditanya soal pendapatan, Vida tersenyum dan mengakui penghasilannya sudah mencapai dua digit per bulan. Sebuah pencapaian besar yang membuktikan bahwa seorang perempuan muda dari desa pun mampu menembus batas ekonomi jika memiliki tekad dan keberanian.
Kisah Vilantika Vida Rahayu adalah bukti nyata bahwa lokasi bukan penghalang. Ia menunjukkan bahwa keberanian memulai dan kedisiplinan yang tinggi adalah kunci untuk mengubah hidup dan menepis stigma wong ndeso. Vida berencana memperluas varian produknya, termasuk kemasan travel pack dan parfum, sambil tetap tinggal di desanya—menegaskan bahwa desa bukan batas untuk bermimpi besar.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.