Kabupaten Bekasi Tangani Banjir, Ubah Bantaran Kali Setia Asih Jadi Lahan Produktif
Bekasi, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi langsung bergerak cepat merehabilitasi bantaran kali di Kelurahan Setia Asih pascapenertiban 17 bangunan liar di lokasi tersebut. Alih-alih membiarkan lahan bekas gusuran itu kosong, Pemkab Bekasi berencana mengubahnya menjadi kawasan hijau produktif dengan menggandeng pihak swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP).
Langkah ini diambil sebagai upaya vital untuk pencegahan banjir dan penataan wilayah, sekaligus memastikan lahan bekas bangunan liar di sepanjang bantaran kali tidak lagi menjadi tempat pembuangan sampah atau semak belukar baru.
Gerak Cepat DLH Tanpa Tunggu APBD 2026
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi, Syafri Donny Sirait, menjelaskan bahwa program penghijauan ini belum terakomodasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026. Namun, Donny menegaskan pemulihan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) harus segera dilakukan.
“Kami berupaya untuk mengembalikan fungsinya sebagai resapan air, tetapi dengan nilai yang produktif. Kami sudah berkoordinasi dengan Satpol PP sesaat setelah pembongkaran, agar lahan bekas bangunan liar itu bisa segera dikelola,” ujar Donny, Senin (3/11/2025).
Karena kendala anggaran, DLH memilih skema kolaborasi dengan pihak swasta. Dalam model ini, perusahaan menyediakan dana atau bibit tanaman, sementara dinas dan komunitas lokal akan membantu proses penanaman serta perawatannya. Donny menyebut, antusiasme dari pihak perusahaan swasta cukup tinggi.
Konsep Penghijauan Produktif: Tahan Longsor dan Bernilai Ekonomi
Donny menambahkan, pola kerja sama CSR ini telah berhasil diterapkan di beberapa desa di Kecamatan Tambun Selatan. Di lokasi tersebut, bantaran sungai disulap menjadi lahan produktif yang ditanami sayur dan buah, di mana hasilnya dimanfaatkan langsung oleh warga setempat.
“Kami ingin penghijauan ini bukan sekadar seremonial. Pohon harus mampu menyerap karbon sekaligus memberikan hasil yang bernilai ekonomi bagi masyarakat,” kata Donny.
Secara ekologis, bibit tanaman yang dipilih disesuaikan dengan karakter tanah di sepanjang bantaran sungai, khususnya yang memiliki fungsi mengikat tanah dan mencegah longsor. DLH berencana menanam pohon buah, seperti mangga dan jambu, serta tanaman keras lainnya untuk memperkuat tebing sungai di Setia Asih.
Donny berharap, jika area tersebut sudah kembali hijau, masyarakat akan lebih peduli dan tidak akan ada lagi pihak yang seenaknya mendirikan bangunan liar.
Meskipun wilayah Setia Asih menjadi titik awal penataan ini, tantangan besar menanti Pemkab Bekasi. Donny tidak menampik bahwa dengan total 18 sungai yang melintasi Kabupaten Bekasi, program rehabilitasi ini membutuhkan waktu dan upaya yang panjang.
“Diperlukan waktu dua sampai tiga tahun untuk benar-benar mengoptimalkan lahan tidur ini di seluruh wilayah. Namun, upaya pemulihan lingkungan ini harus dijalankan, supaya tidak berhenti di wacana saja,” tutupnya.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.