Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 9 Jun 2025 13:18 WIB ·

Pasar Mbetet: Menghidupkan Kembali Denyut Peradaban Gerabah Semarang


					Pasar Mbetet: Menghidupkan Kembali Denyut Peradaban Gerabah Semarang Perbesar

Semarang [DESA MERDEKA] Di tengah hiruk pikuk modernisasi, sebuah nama menggema dari pelosok Kabupaten Semarang: Pasar Gerabah Mbetet. Terletak di Desa Lopait, Kecamatan Tuntang, pasar tradisional ini bukan sekadar pusat transaksi jual beli, melainkan cerminan peradaban lokal yang kaya dan tak lekang oleh waktu. Nama “Mbetet” sendiri diambil dari sungai kecil yang konon tak pernah kering di bagian bawah lokasi pasar, menyimbolkan harapan akan kelestarian dan keberlanjutan hidup masyarakat sekitar.

Kekayaan produk yang ditawarkan Pasar Mbetet tak hanya terbatas pada peralatan rumah tangga, khususnya dapur, berbahan tanah liat. Tungku, teko set, nampan, kuwali, wajan, loyang, hingga celengan menjadi ikon produk utama yang mencerminkan keterampilan tangan pengrajin lokal. Seiring waktu, adaptasi pun terjadi. Kini, produk dari aluminium dan tembaga, bahkan perabot berbahan kayu dan batu seperti cobek, alu, dan lesung, turut meramaikan lapak-lapak di sini. Uniknya, menurut penuturan Mba Emi, salah satu warga sekaligus pedagang, sejak tahun 2000, Pasar Mbetet juga menjadi sentra penjualan aneka bunga imitasi dari plastik dan kayu, memperluas jangkauannya sebagai pusat kerajinan rumah tangga dan dekorasi yang kini dikenal hingga ke luar Semarang.

Namun, dinamika perkembangan wilayah tak selalu sejalan dengan tradisi. Dulu, Pasar Mbetet membentang luas hingga Desa Kesongo, di jalur strategis Jalan Raya Semarang–Solo. Kini, wajahnya telah berubah. Klaster perumahan elit “Panorama”, pom bensin Lopait, dan Saloka Theme Park menjadi tetangga baru. Pembangunan jalan tol Semarang–Solo pada 2016 juga turut memengaruhi, membuat aliran pengunjung ke pasar kian tersendat. Omzet jutaan rupiah di akhir pekan kini hanya tinggal kenangan.

Meskipun demikian, potensi Pasar Mbetet belum padam. Ia hanya butuh sentuhan revitalisasi dan strategi adaptasi di era digital ini. Kolaborasi antara pemerintah setempat, pegiat media sosial, dan lembaga seperti Koperasi Merah Putih sangat dibutuhkan. Koperasi dapat menjadi jembatan bagi para pelaku UMKM lokal untuk mengakses pasar yang lebih luas. Mba Mami, seorang pedagang yang telah berjualan sejak 2007, mengungkapkan harapannya agar pemerintah dapat mempromosikan Pasar Mbetet melalui kegiatan atau kunjungan. “Kami ingin tamu-tamu diajak mampir, setidaknya untuk mengenal produk kami. Nanti, suatu waktu pasti mereka akan kembali,” ujarnya penuh harap.

Lebih dari sekadar tempat berdagang, Pasar Gerabah Mbetet adalah warisan budaya dan penggerak ekonomi kerakyatan. Dengan dukungan nyata dan upaya digitalisasi promosi, pasar ini berpotensi kembali berjaya sebagai ikon perdagangan dan pariwisata di Kabupaten Semarang yang membanggakan. Mari bersama-sama dukung kelestarian Pasar Mbetet, agar denyut peradaban gerabah ini terus berdenyut.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 172 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kisah Warga Pasimarannu: Evakuasi Mandiri Cepat dari Gempa

15 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Lingkaran Setan Pesisir Meranti: Mengapa Kursi Kepala Desa Sepi Peminat?

14 Agustus 2026 - 15:37 WIB

Cegah Stunting, Posyandu Mawar Balitata Kawal Tumbuh Kembang Balita

12 Agustus 2026 - 17:21 WIB

Menggarami Lautan Lunang: Kritik Perda Bencana & Siasat APBDes

12 Agustus 2026 - 09:47 WIB

Dukung Sport Tourism, BOM Run 2026 Dongkrak Sektor UMKM Padang

9 Agustus 2026 - 17:56 WIB

Sinergi Antardesa: Cara Budi Prasetyawan Hidupkan Ekonomi Warga

8 Agustus 2026 - 01:33 WIB

Trending di RAGAM