Opini [DESA MERDEKA] – Peningkatan signifikan jumlah desa wisata di Indonesia membawa angin segar bagi pembangunan pedesaan. Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencatat 6.106 desa wisata aktif berpartisipasi dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Ribuan desa ini terbagi dalam kategori Rintisan, Berkembang, Maju, dan Mandiri. Namun, kategori Rintisan masih mendominasi dengan 4.757 desa. Angka ini sekaligus menguak fakta bahwa tidak sedikit desa wisata yang belum berkembang optimal, bahkan sebatas berstatus administratif.
Salah satu penyebab utama belum optimalnya pengembangan desa wisata adalah kurangnya pemahaman mendalam terhadap konsepnya. Sering kali, desa wisata disalahartikan hanya sebagai destinasi semata. Padahal, pembangunan dan pengembangan desa wisata membutuhkan pendekatan komprehensif. Kemenparekraf (2024) menekankan bahwa sebuah desa wisata tidak hanya bertujuan mendatangkan pengunjung dan keuntungan finansial, tetapi juga harus mampu menawarkan daya tarik wisata yang unik, fasilitas penunjang yang memadai, dan kemudahan akses.
Lebih dari sekadar peningkatan ekonomi lokal, orientasi utama desa wisata adalah pelestarian warisan budaya dan promosi konservasi lingkungan. Oleh karena itu, kunci utama keberhasilan pengembangan desa wisata terletak pada partisipasi dan pemberdayaan masyarakat. Integrasi kehidupan masyarakat lokal sebagai bagian dari daya tarik wisata, yang berbasis pada nilai-nilai lokal, budaya, alam, dan kehidupan sehari-hari, sangat krusial.
Dalam proses pengintegrasian ini, kepercayaan (trust) antarwarga, pelaksana, dan pemerintah desa mutlak diperlukan. Kepercayaan ini akan menciptakan energi sosial yang mampu menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi, politik, atau budaya. Implementasinya terlihat dari semangat gotong royong dan kolaborasi semua warga yang merasa memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan desanya.
Kepercayaan ini kemudian berlanjut pada pihak-pihak pelaksana dan sistem pendukung pengembangan desa wisata. Lembaga pengelola dan pemerintah desa wajib membangun komunikasi yang inklusif dan transparan kepada seluruh masyarakat. Pembukaan akses informasi serta pelibatan masyarakat mulai dari tahap perencanaan hingga evaluasi menjadi kapital yang sangat krusial. Strategi ini sangat penting dalam membangun dan menjaga kepercayaan yang telah diberikan. Kapital sosial ini selanjutnya akan menumbuhkan semangat gotong royong dalam pengelolaan desa wisata, sekaligus membentuk jaringan sosial antara masyarakat, pemerintah desa, dan mitra luar.
Setelah membangun kepercayaan, langkah selanjutnya adalah pemberdayaan masyarakat. Identifikasi potensi sumber daya manusia (SDM) dan potensi desa, seperti budaya, seni, alam, dan produk lokal, sangat diperlukan. Hasil identifikasi ini akan menjadi peta jalan pemberdayaan. Jika sudah ada komunitas-komunitas di desa, fokusnya adalah memberdayakan mereka melalui berbagai pelatihan yang relevan.
Tantangan Penguatan Kapital Sosial
Masyarakat desa memiliki latar belakang beragam, baik agama, ekonomi, profesi, maupun politik. Keberagaman ini, di satu sisi, merupakan kekayaan dan keberkahan, tetapi di sisi lain juga menjadi tantangan dalam mengembangkan desa wisata. Keberagaman harus dikelola dengan baik, tidak selalu harus disatukan. Jika pengembangan desa wisata mengadopsi pendekatan berbasis komunitas, keberagaman komunitas itu sendiri justru akan menjadi pemangku kepentingan dalam keberlangsungan desa wisata.
Setiap komunitas akan mengambil peran masing-masing dan berkolaborasi dalam aktivasi desa wisata. Dukungan dari pihak luar, seperti dinas terkait, akademisi, dan program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, akan semakin memperkuat pembangunan desa wisata. Peran pihak luar ini bukan sebagai bentuk ketergantungan, melainkan sebagai kolaborator dalam mengembangkan potensi yang sudah dimiliki dan dilakukan oleh masyarakat desa.
Text Foto: Semangat gotong royong masyarakat desa menjadi kunci utama dalam memajukan desa wisata yang berkelanjutan.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.