Pekalongan [DESA MERDEKA] – Semangat menguatkan gerakan literasi Pekalongan tak pernah padam. Baru-baru ini, Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kota dan Kabupaten Pekalongan kembali menggelar diskusi santai bertajuk Kojahan Literasi di Omah Sinau Sogan, Kuripan Lor, Gang 3, Kota Pekalongan. Mengusung tema “Menengok Gerakan Literasi di Daerah,” acara ini menjadi wadah kolaborasi penting bagi para pegiat literasi dari dua wilayah tersebut.
Diskusi ini mempertemukan berbagai pelaku literasi untuk berbagi pengalaman dan strategi demi pengembangan literasi di daerah. Tiga narasumber utama turut hadir: Ribut Achwandi, Ketua Forum TBM Kota Pekalongan; Yoga Rifai Hamzah, Ketua Forum TBM Kabupaten Pekalongan; dan Dr. Heru Kurniawan, Ketua Forum TBM Jawa Tengah.

Ribut Achwandi, yang mengawali diskusi, menjelaskan beragamnya gerakan literasi di Kota Pekalongan. Mulai dari TBM, perpustakaan tingkat RW, hingga komunitas aktif seperti Komunitas Baca Buku yang rutin mengadakan kajian setiap minggu sore. “Tantangan utama dalam literasi bukan pada ketersediaan fasilitas, tetapi bagaimana kita mengelola semangat membaca secara pribadi,” ujar Ribut. Ia menekankan bahwa budaya literasi harus dibangun dari kesadaran individu agar menjadi kebiasaan, bukan hanya kegiatan temporer.
Namun, potret berbeda disampaikan oleh Yoga Rifai Hamzah. Menurutnya, geliat literasi di Kabupaten Pekalongan dalam lima tahun terakhir terkesan “hidup segan, mati tak mau.” Meski ada berbagai festival membaca, lomba menulis, hingga pelatihan pustakawan desa, semua itu terasa seremonial dan kehilangan esensinya. Kekhawatiran Yoga beralasan, mengingat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Pekalongan berada di papan bawah Jawa Tengah. “Pekalongan sedang berdiri di titik rawan. Literasi tak bisa terus diperlakukan sebagai pelengkap,” tegasnya.
Menanggapi hal ini, Dr. Heru Kurniawan berharap energi positif dari kegiatan literasi ini dapat menyebar luas, hingga menjangkau Kabupaten Batang dan Pemalang. “Forum TBM adalah organisasi nirlaba yang tidak memberikan insentif finansial. Namun, kami hadir sebagai ruang bagi para pegiat literasi untuk berkarya, berprestasi, dan menginspirasi,” jelasnya.
Diskusi Kojahan Literasi ini menjadi bukti nyata bahwa semangat literasi di akar rumput belum padam. Para pegiat terus berupaya menjaga nyala gerakan, meskipun dengan berbagai keterbatasan. Diharapkan, dari ruang-ruang kecil seperti Omah Sinau Sogan inilah, pengembangan literasi akan tumbuh lebih kokoh, menyentuh tidak hanya angka statistik, tetapi juga kesadaran kritis dan kemandirian masyarakat. Semangat gotong royong dan kolaborasi antarwilayah ini diharapkan menjadi model inspiratif bagi daerah lain, menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari obrolan santai dan tekad yang teguh para pencinta baca.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.