Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 10 Mei 2025 21:26 WIB ·

Kisah Pilu di TTS: Longsor Hancurkan Impian Puluhan Keluarga


					<em>Warga Desa Oeleu, Kecamatan Toianas, Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), berusaha menyelamatkan sisa-sisa barang berharga dari rumah mereka yang rusak tertimbun material longsor, Sabtu (10/5/2025). Bencana longsor yang terjadi pada Jumat (9/5/2025) malam akibat hujan deras berkepanjangan ini menyebabkan 55 rumah rusak dan memaksa puluhan keluarga mengungsi.</em> Perbesar

Warga Desa Oeleu, Kecamatan Toianas, Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), berusaha menyelamatkan sisa-sisa barang berharga dari rumah mereka yang rusak tertimbun material longsor, Sabtu (10/5/2025). Bencana longsor yang terjadi pada Jumat (9/5/2025) malam akibat hujan deras berkepanjangan ini menyebabkan 55 rumah rusak dan memaksa puluhan keluarga mengungsi.

Timor Tengah Selatan, NTT [DESA MERDEKA] – Malam kelabu menyelimuti Dusun Tuamolo, Desa Oeleu, Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Saat jarum jam menunjukkan pukul 22.00 Wita pada Jumat (9/5/2025), suara gemuruh tanah longsor memecah keheningan malam, membawa mimpi buruk bagi 55 keluarga. Rumah yang menjadi saksi bisu suka dan duka, dalam sekejap tertimbun material longsor, menyisakan duka mendalam bagi lebih dari 200 jiwa.

Di tengah kepanikan dan kegelapan, warga RT 11, RW 06, Desa Oeleu, harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan tempat tinggal. Kepala Desa Oeleu, Yonohrin Mellu, dengan suara lirih mengabarkan betapa dahsyatnya terjangan tanah yang meluluhlantakkan puluhan rumah. “Benar, ada 55 rumah warga kami yang rusak parah akibat tertimbun longsor,” ungkapnya saat dihubungi pada Sabtu (10/5/2025), sambil terus mendampingi warganya di lokasi bencana.

Desa Oeleu yang dihuni 65 kepala keluarga dengan total lebih dari 200 jiwa ini kini diwarnai pemandangan pilu. Para lansia dan anak-anak, kelompok yang paling rentan, telah dievakuasi ke rumah kerabat di desa tetangga yang aman dari ancaman longsor. Sementara itu, sebagian warga lainnya memilih bertahan di sekitar lokasi, bergotong royong mencari sisa-sisa harta benda yang mungkin masih bisa diselamatkan.

Keajaiban di tengah musibah, tak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa nahas ini. Namun, trauma dan kehilangan jelas tergambar di wajah setiap warga. Yonohrin menceritakan, bencana ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang tak henti mengguyur wilayah mereka selama empat hari berturut-turut. Alam seolah memberikan peringatan sejak Rabu (7/5/2025) sore, ketika hujan lebat mengguyur desa lebih dari tiga jam. Retakan-retakan tanah mulai bermunculan keesokan harinya, semakin menganga lebar hingga puncaknya terjadi pada Jumat malam, saat sebagian besar warga tengah terlelap dalam tidurnya.

“Panjang longsor ini diperkirakan mencapai satu kilometer,” jelas Yonohrin. “Barang-barang di dalam rumah hampir semuanya tertimbun. Kami masih terus melakukan pendataan untuk mengetahui kerugian materiil secara pasti.” Di balik duka, semangat kebersamaan dan ketegaran warga Oeleu patut diacungi jempol. Mereka bahu-membahu meringankan beban sesama, menunjukkan bahwa di tengah musibah pun, harapan dan solidaritas tetap menyala. Kisah pilu dari Timor Tengah Selatan ini menjadi pengingat akan betapa rentannya manusia terhadap kekuatan alam, namun juga betapa kokohnya ikatan persaudaraan di saat-saat sulit.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 93 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ayah Wajib Hadir: Formula Miliaran Rupiah Desa Lerep Cegah Fatherless

27 Oktober 2026 - 21:12 WIB

Resonansi Metafisika Jawa dan Kedaulatan Pangan dari Desa Banyubiru

26 Oktober 2026 - 10:24 WIB

Ketika Regulasi Kementan Tunduk pada Kuasa Elit Gampong

23 Oktober 2026 - 22:03 WIB

Sengketa Silado: Potret Luka Desa Dijajah Kapitalisme Urban

22 Oktober 2026 - 19:27 WIB

Menghirup Asap, Menghitung Selisih Bantuan di Karang Mulya

13 Oktober 2026 - 23:49 WIB

Retak Rumah Tangga Minang dan Tumpulnya Taji Adat

10 Oktober 2026 - 07:52 WIB

Trending di SOSBUD