Oleh: Suryokoco
Setiap kali kitamenginjakkan kaki kembali ke tanah kelahiran, aroma sawah, udara pagi yang bersih, atau suara orang-orang tua di gardu ronda seolah memanggil kenangan yang tak lekang oleh waktu. Di sanalah tempat kita dibesarkan. Di sanalah akar kita tumbuh. Namun, sering kali, keterikatan itu hanya sebatas nostalgia. Lalu kita pulang ke kota—dan lupa bahwa kampung halaman tak sekadar untuk dikenang, tapi juga untuk diperjuangkan.
Kini, saatnya perantau mengambil peran lebih besar. Bukan hanya sebagai pengirim uang lebaran atau pemesan oleh-oleh khas desa. Tapi sebagai motor perubahan. Salah satu wujud konkret yang bisa dilakukan adalah mendukung pendirian dan pengembangan Koperasi Desa Merah Putih—sebuah gerakan ekonomi gotong royong dari desa, oleh desa, untuk Indonesia.
Mengapa Perantau?
Perantau punya tiga modal yang tak semua orang miliki: pengalaman luas, jejaring luas, dan kepedulian mendalam. Mungkin kita adalah profesional di kota besar, wirausahawan sukses di luar negeri, atau mahasiswa cemerlang di ibu kota. Tapi di balik semua itu, ada satu garis merah: kita lahir atau dibesarkan oleh desa.
Banyak desa masih berjuang mengembangkan ekonominya. Harga hasil tani tak menentu, anak muda merantau tanpa kembali, dan BUMDes sering berjalan setengah hati. Di sisi lain, koperasi yang kuat bisa menjadi soko guru ekonomi lokal—jika dijalankan dengan manajemen modern, keterbukaan, dan semangat gotong royong.
Koperasi Desa Merah Putih: Bukan Sekadar Koperasi
Gerakan Koperasi Desa Merah Putih mengajak masyarakat desa—dan khususnya para perantau—untuk membangun koperasi yang:
- Berbasis potensi lokal (pertanian, pariwisata, kerajinan, teknologi)
- Dikelola secara profesional dengan transparansi digital
- Didukung oleh kolaborasi lintas generasi, termasuk para perantau
Koperasi ini bukan hanya untuk simpan pinjam. Tapi untuk membangun ekosistem ekonomi yang sehat: dari produksi, distribusi, hingga pemasaran. Dan semua itu butuh dukungan, terutama dari kita—anak-anak desa yang kini hidup di luar desa.
Apa yang Bisa Dilakukan Perantau?
- Menjadi investor sosial
Bukan sekadar donatur, tapi penyokong modal koperasi berbasis gotong royong. Kontribusi bisa dalam bentuk simpanan pokok, simpanan sukarela, atau dukungan alat produksi. - Membantu pemasaran produk desa
Kita bisa bantu memasarkan produk UMKM atau hasil pertanian desa ke jaringan kota atau ekspor. - Mentor dan pembina usaha desa
Bagikan pengalaman manajerial, pemasaran digital, keuangan, atau bahkan teknologi kepada tim koperasi desa. - Membuat platform kolaborasi digital
Bayangkan aplikasi sederhana yang menghubungkan perantau dan koperasi secara transparan—melihat laporan keuangan, progres usaha, dan kebutuhan SDM atau modal. - Menggalang kekuatan perantau lainnya
Buat komunitas perantau desa berbasis WhatsApp, Telegram, atau forum daring. Diskusikan cara kolektif mendukung koperasi.
Bukan Lagi Pilihan, Tapi Tanggung Jawab
Saat kita lahir di sebuah desa, atau orang tua kita masih tinggal di sana, sesungguhnya kita membawa utang sosial. Desa telah memberikan tanah, udara, dan nilai hidup yang membentuk siapa kita hari ini. Sudah semestinya kita kembalikan dalam bentuk karya nyata.
Dunia desa sedang berubah. Dengan digitalisasi, koperasi yang dulunya hanya diingat saat panen atau simpan pinjam kini bisa menjadi mesin ekonomi canggih. Tapi itu tak akan terjadi kalau kita, para perantau, hanya diam menonton dari jauh.
Saatnya Pulang-Dengan Gagasan, Bukan Hanya Kenangan
Mari kita ubah tradisi pulang kampung menjadi misi pulang membina. Jadilah bagian dari sejarah baru desa kita. Jadilah generasi perantau yang bukan hanya meninggalkan jejak di kota, tapi juga menghidupkan kembali semangat gotong royong di kampung halaman.
Koperasi Desa Merah Putih bukan hanya soal ekonomi, tapi soal kebanggaan dan pengabdian.
Karena sejauh apa pun kaki melangkah, desa tetap rumah.
Dan rumah… layak diperjuangkan.

Jurnalis dan Pegiat Pemberdayaan Masyarakat Peduli Desa. Saat ini adalah Ketua Komunitas Desa Indonesia dan Koordinator Mobile Journalist Desa


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.