Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 26 Mar 2025 21:01 WIB ·

Tombilotohe: Tradisi Cahaya Ramadhan Gorontalo, Simbol Kebersamaan Abad ke-15


					<em>Tradisi Tombilotohe di Gorontalo, ribuan lampu minyak dan listrik semarakkan malam Ramadhan.</em> Perbesar

Tradisi Tombilotohe di Gorontalo, ribuan lampu minyak dan listrik semarakkan malam Ramadhan.

Gorontalo [DESA MERDEKA] – Menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat Gorontalo memiliki cara unik menyambut tiga malam terakhir bulan Ramadan. Tradisi ini bernama Tombilotohe. Ribuan lampu, yang menggunakan bahan bakar minyak tanah dan listrik, menghiasi halaman rumah, masjid, serta jalanan desa. Akibatnya, suasana Ramadan di Gorontalo terasa begitu bercahaya dan penuh kehangatan.

Konon, tradisi Tombilotohe telah ada sejak abad ke-15. Awalnya, tradisi ini muncul sebagai upaya menerangi jalan bagi masyarakat yang hendak beribadah di masjid pada malam-malam terakhir Ramadan. Masyarakat percaya malam-malam tersebut sebagai waktu datangnya Lailatul Qadar. Secara etimologis, Tombilotohe berasal dari bahasa Gorontalo. Kata “tombi” memiliki arti memasang, sementara “tohe” berarti lampu.

Seiring berjalannya waktu, Tombilotohe bertransformasi menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Gorontalo. Tradisi ini mengandung makna religius yang mendalam. Dahulu, masyarakat hanya menggunakan lampu minyak kelapa atau minyak tanah. Namun kini, inovasi lampu listrik dengan berbagai warna dan hiasan khas turut menambah semarak perayaan tradisi ini.

Pemerintah daerah dan masyarakat Gorontalo bekerja sama erat untuk melestarikan tradisi Tombilotohe. Setiap tahun, berbagai desa dan kelurahan mengadakan perlombaan. Mereka berlomba menciptakan instalasi Tombilotohe yang paling indah dan menarik.

“Tombilotohe bukan hanya sekadar perayaan biasa,” ungkap seorang tokoh masyarakat Gorontalo. “Lebih dari itu, tradisi ini adalah simbol kebersamaan, gotong royong, dan pengingat akan pentingnya meningkatkan ibadah di penghujung bulan Ramadan yang suci.”

Semangat gotong royong dan kebersamaan yang terpancar dalam tradisi ini terus dijaga oleh masyarakat Gorontalo. Dengan demikian, Tombilotohe tetap lestari sebagai warisan budaya yang tak lekang dimakan zaman.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 49 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Tegaskan Bebas Tendensi Politik, LSM KANe Malut Buka Suara Soal Monitoring BLT dan Legalitas Organisasi

8 September 2026 - 06:13 WIB

LSM Tantang Inspektorat Halsel Audit Dana Desa Sengga Baru

4 September 2026 - 22:43 WIB

Jurus Baru 20 Desa Wisata Sumbar Pikat Dunia

3 September 2026 - 05:12 WIB

Warga Desa Marikapal Sambut Harapan Baru Terang Listrik PLN dan Penataan Infrastruktur

2 September 2026 - 09:43 WIB

DKP Banggai dan LAUTRA Sulteng Matangkan Jadwal Musdes Sosialisasi

27 Agustus 2026 - 13:45 WIB

Dari Voucher Seharga 10 ribu, Yogi Berakhir di Balik Jeruji

27 Agustus 2026 - 11:11 WIB

Trending di RAGAM