Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 1 Mar 2025 15:42 WIB ·

Balimau di Pasaman: Ritus Pembersihan Diri dan Diplomasi Adat


					<em>Tradisi Arak-Arakkan Balimau di Nagari Aia Manggih Selatan.</em> Perbesar

Tradisi Arak-Arakkan Balimau di Nagari Aia Manggih Selatan.

Pasaman, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Bagi masyarakat Nagari Aia Manggih Selatan, menyambut Ramadan bukan sekadar mengganti jadwal makan, melainkan momen “reset” sosial melalui tradisi Balimau. Digelar di Jorong Ambacang Anggang, Lubuk Sikaping, Jumat (28/02/2025), Balimau kembali menjadi panggung bagi para pemimpin adat untuk menegakkan aturan main selama bulan suci.

Berbeda dengan persepsi publik yang sering menganggap Balimau hanya ritual mandi, di Pasaman tradisi ini berfungsi sebagai forum penyampaian hukum adat dan aturan sosial. Wali Nagari Aia Manggih Selatan, Herizon, menegaskan bahwa momen ini digunakan untuk menyosialisasikan tata tertib nagari agar ibadah puasa warga berjalan khusyuk tanpa gangguan penyakit sosial.

Parade Ninik Mamak dan Silek Harimau
Ritual dimulai dengan prosesi sakral: keluarnya para ninik mamak dari Rumah Gadang usai musyawarah adat. Dengan wibawa penuh, mereka berarak keliling kampung (kuliliang kampuang), diikuti barisan kaum perempuan, remaja, hingga anak-anak. Atmosfer religius kental terasa saat lantunan dikie pano bersahutan dengan atraksi Silek Harimau Pasaman yang memukau di sepanjang jalan.

Kehadiran tokoh-tokoh kunci seperti Dt. Bandaro Basa, Rajo Bingkalang, hingga jajaran Imam Khatib menunjukkan bahwa Balimau adalah bentuk konsolidasi total antara elemen pemerintah, adat, dan agama.

Filosofi Wangi Alami dan Doa Kolektif
Puncak acara ditandai dengan anak-anak perempuan yang membawa mangkuk berisi ramuan limau dan bunga rampai (kasai). Di hadapan warga, seorang tokoh pangulu syarak memimpin doa memasuki Ramadan. Uniknya, prosesi “balimau” dilakukan secara simbolis dengan menyentuhkan ujung jari yang telah direndam wangi-wangian alami ke kening warga secara bergantian.

“Balimau atau bakasai adalah simbol penyucian diri secara lahir dan batin. Hari terakhir Syakban menjadi batas suci bagi seseorang untuk berniat puasa keesokan harinya,” jelas Herizon.

Tradisi ini membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, Nagari Aia Manggih Selatan tetap kokoh memegang prinsip bahwa kebersihan batin dan keteraturan sosial adalah modal utama untuk meraih keberkahan di bulan Ramadan. Sebuah warisan yang tidak hanya mengharumkan raga, tapi juga memperkuat struktur persaudaraan di bumi Pasaman.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 32 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menjemput Damai Demang Kentol: Kisah Batik Sumberparang Malang

10 Agustus 2026 - 06:48 WIB

Simalakama di Kaki Bromo: Saat Penegak Adat Dibui Hukum Negara

8 Agustus 2026 - 06:26 WIB

Ironi Desa Budaya Bantul Antara Pelestarian Dan Birokrasi

7 Agustus 2026 - 16:11 WIB

Sengketa Lahan Lempuing Jaya dan Sengkarut Arsip Desa

31 Juli 2026 - 20:33 WIB

Nestapa Subari: Sisi Lain Keadilan Restoratif Desa Trangkil

31 Juli 2026 - 07:37 WIB

Minta Maaf Tak Cukup, Sanksi Adat Menanti di Kuranji

30 Juli 2026 - 09:35 WIB

Trending di SOSBUD