Menu

Mode Gelap
Rembuk Stunting Desa Batang Bahas Konvergensi dan Perencanaan Pencegahan Stunting Tahun 2027 Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

PEMERINTAHAN · 1 Mar 2025 14:58 WIB ·

Jateng Rancang Raperda Pariwisata: Ambarawa Jadi Role Model Eduwisata


					<em>Komisi B saat berada di Desa Wisata Bejalen memperlihatkan hasil perkebunan di Kabupaten Semarang.(foto: jatengprov id)</em> Perbesar

Komisi B saat berada di Desa Wisata Bejalen memperlihatkan hasil perkebunan di Kabupaten Semarang.(foto: jatengprov id)

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Komisi B DPRD Jawa Tengah kini tengah mematangkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penyelenggaraan Kepariwisataan dengan pendekatan yang berbeda. Bukan sekadar mengejar angka kunjungan, raperda ini dirancang untuk mengintegrasikan potensi lokal seperti budidaya jamur tiram dan Benteng Pendem menjadi pilar keberlanjutan ekonomi desa.

Kunjungan kerja ke Desa Wisata Bejalen, Ambarawa, dan Surakarta menjadi kunci pengumpulan data muatan lokal. Sekretaris Komisi B DPRD Jateng, Solehah Kurniawati, menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah fenomena “ramai di awal”, di mana banyak desa wisata meredup setelah euforia pembukaan usai.

“Kita butuh regulasi yang memastikan keberlanjutan. Ambarawa punya potensi luar biasa. Contohnya Benteng Pendem; jika dikelola secara profesional layaknya Benteng Vredeburg di Yogyakarta, dampak ekonominya bagi masyarakat akan masif,” jelas Solehah.


Eduwisata Jamur: Dari Hulu ke Hilir
Sisi unik yang ditemukan di lapangan adalah inisiatif Kelompok Tani Aarsarowo di Desa Bejalen. Mereka tidak hanya menjual pemandangan, tetapi menawarkan pengalaman eduwisata budidaya jamur tiram yang komprehensif. Mulai dari produksi media tanam (baglog), teknik panen, hingga pengolahan limbah jamur menjadi produk bernilai tambah.

Kepala Desa Bejalen, Towo Sugiarto, mengungkapkan bahwa integrasi antara wisata sejarah dan wisata edukasi pangan adalah strategi mereka. Namun, tantangan cuaca ekstrem dalam dua tahun terakhir sering memicu gagal panen, ditambah keterbatasan wawasan bisnis masyarakat dalam menangkap peluang eduwisata.

Dukungan Legislatif untuk Swasembada Pangan
Ketua Komisi B DPRD Jateng, Sri Hartini, menyatakan bahwa hadirnya Raperda Kepariwisataan ini akan memfasilitasi desa-desa seperti Bejalen agar lebih tangguh menghadapi kendala teknis dan pemasaran. Inisiatif desa dalam mempromosikan budaya jamur, kopi, dan alpukat dinilai sejalan dengan program nasional swasembada pangan.

“Tugas kami di DPRD adalah hadir memfasilitasi kebutuhan mereka. Desa wisata binaan kelompok tani hutan ini harus mampu mengarahkan wisatawan secara terintegrasi dari satu titik eduwisata ke titik lainnya,” tegas Sri Hartini.

Melalui raperda ini, Jawa Tengah berkomitmen mengubah wajah pariwisata desa dari sekadar tempat berfoto menjadi pusat edukasi dan kemandirian pangan yang berkelanjutan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Program TEKAD Sulap Potensi 1.110 Desa Demi Makan Gratis

19 Mei 2026 - 10:19 WIB

Target 59 Negara: Saatnya Produk Desa Sulsel Mendunia

15 Mei 2026 - 07:17 WIB

Desa Go Global: Menembus Pasar Dunia Lewat Literasi Karantina

13 Mei 2026 - 06:00 WIB

Ekspor Bumbu Jadi: Cara Desa Berhenti Jual Barang Mentah

12 Mei 2026 - 19:21 WIB

Lilin Kecil Desa: Mesin Utama Pangan Nasional Prabowo

12 Mei 2026 - 06:01 WIB

BPD Jadi Kunci: Mengawal Makan Gratis dan Ekonomi Desa

8 Mei 2026 - 06:01 WIB

Trending di PEMERINTAHAN