Jombang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Desa Tanggalrejo di Kecamatan Mojoagung, Jombang, membuktikan bahwa menjaga tradisi leluhur bisa berjalan beriringan dengan misi kesejahteraan modern. Melalui rangkaian “Ruwah Desa” yang digelar menjelang Ramadan 2025, desa ini tidak hanya memanjatkan doa, tetapi juga memperkuat solidaritas warga melalui pagelaran budaya dan kegiatan sosial yang unik.
Puncak kemeriahan terjadi pada Jumat (21/2) malam dengan pementasan wayang kulit oleh dalang lokal, Ki Senoaji. Acara ini menjadi spesial karena dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Jombang, Salmanudin Yazid, yang merupakan putra daerah asli desa tersebut.
“Tradisi ruwah desa rutin kami adakan setiap menjelang Ramadan. Kami mengajak warga bersyukur dan berdoa bersama kepada Allah SWT,” ujar Kepala Desa Tanggalrejo, Dimas Wahyu Ramadhana, Minggu (23/2).
Enam Dusun Satu Napas Tradisi
Rangkaian acara ini sebenarnya telah dimulai sejak 14 Februari melalui peringatan di enam wilayah dusun, yaitu Kalibening, Tanggalrejo, Sonokerep, Semen, Mojoranu, dan Bendorangkang. Konsistensi dalam melibatkan seluruh dusun menunjukkan betapa kuatnya akar budaya yang dijaga oleh Pemerintah Desa Tanggalrejo.
Selain nuansa sakral wayang kulit, keceriaan warga pecah dalam kegiatan mancing bersama pada Minggu (23/2) pagi. Menariknya, acara mancing ini tidak hanya diikuti warga setempat, tetapi juga memikat antusiasme pengunjung dari luar desa. Dimas berharap, melalui kail dan joran, kerukunan serta silaturahmi antarwarga dapat terjalin lebih erat tanpa sekat.
Budaya Sebagai Fondasi Swasembada Pangan
Sudut pandang menarik muncul dalam sambutan Wakil Bupati Salmanudin Yazid. Ia menekankan bahwa pelestarian tradisi seperti Ruwah Desa adalah wujud peningkatan iman yang berujung pada semangat membangun daerah. Di tengah acara budaya tersebut, Salmanudin menyelipkan komitmen politik yang menyentuh akar rumput: dukungan terhadap swasembada pangan.
Bersama Bupati Warsubi, ia menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas harga gabah di Jombang. “Kami berkomitmen mendukung sektor pertanian agar harga jual gabah stabil di angka Rp6.500 per kilogram, sesuai instruksi Bapak Presiden,” tegasnya.
Pesan ini menjadi penutup yang kuat, menegaskan bahwa Ruwah Desa di Tanggalrejo bukan sekadar pesta rakyat, melainkan momentum konsolidasi antara pemerintah dan petani untuk memastikan perut kenyang dan hati tenang melalui budaya yang lestari.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.