Lampung Timur, Lampung [DESA MERDEKA] – Di Desa Labuhan Ratu IX, Lampung Timur, wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi untuk membiayai “persalinan” burung liar. Melalui program inovatif bernama avitourism, desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) ini mengajak turis menjadi orang tua asuh bagi puluhan jenis burung liar melalui sistem adopsi sarang dan pakan.
Desa yang akrab disapa Plangijo ini tercatat menjadi rumah bagi 77 jenis burung liar. Alih-alih membiarkan perburuan liar merajalela, warga setempat justru mengubah sarang burung menjadi aset konservasi yang bernilai ekonomi bagi pelestarian alam.
Mekanisme Adopsi: Menjaga Tanpa Memindahkan
Konsep adopsi sarang di Labuhan Ratu IX terbilang sangat progresif. Wisatawan yang menemukan sarang burung di habitat aslinya dapat melaporkannya kepada pemandu. Setelah spesies diidentifikasi, sarang tersebut akan “ditawarkan” melalui media sosial untuk mencari orang tua asuh.
Donasi dari para adopter digunakan sepenuhnya untuk biaya penjagaan dan pemantauan sarang hingga telur menetas dan anak burung sanggup terbang bebas. Uniknya, lokasi sarang tidak pernah dipindahkan. Orang tua asuh akan menerima pembaruan berkala berupa foto dan video perkembangan “anak asuh” mereka secara digital.
Kebun Pakan: Mengubah Lahan Tidur Jadi Restoran Burung
Selain sarang, desa ini menawarkan program adopsi pakan. Dana yang terkumpul dari masyarakat umum dialokasikan untuk menyulap lahan-lahan kosong milik warga menjadi kantong habitat burung.
Di lahan ini, wisatawan diajak menanam pohon pakan alami seperti pepaya, pisang, dan pohon salam. Strategi ini bertujuan untuk memastikan pasokan makanan burung liar tetap terjaga tanpa harus bergantung sepenuhnya pada area dalam taman nasional, sekaligus mengurangi konflik antara burung dan lahan pertanian warga.
Mimpi Menjadi Kampung Ramah Burung Pertama
Inisiatif ini dimotori oleh pemuda lokal seperti Angga Maulana. Sebagai pemandu sekaligus aktivis konservasi, Angga memimpikan Labuhan Ratu IX menjadi tujuan utama avitourism dunia dan pionir kampung ramah burung pertama di Sumatera.
“Kami ingin burung-burung liar betah tinggal di desa ini. Jika mereka merasa aman, keanekaragaman hayati akan meningkat, dan desa ini akan memiliki daya tarik wisata yang tidak ditemukan di tempat lain,” ungkap Angga. Transformasi ini membuktikan bahwa konservasi dan ekonomi bisa berjalan beriringan tanpa harus merusak ekosistem.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.