Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Transformasi digital dan standardisasi produk menjadi kunci utama bagi ratusan ribu UMKM di Sumatera Barat untuk menembus pasar global. Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, mendesak Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) untuk berperan sebagai jembatan teknologi dan distribusi bagi 740 ribu unit usaha mikro agar tidak lagi sekadar bertahan, tetapi mampu naik kelas.
Hingga April 2026, jumlah UMKM di Sumbar melonjak signifikan, di mana 99 persennya merupakan usaha mikro yang berbasis di perdesaan dan nagari. Fokus utama saat ini adalah mengintegrasikan ekosistem produksi desa dengan jejaring pasar modern melalui pembinaan terukur dan standarisasi kualitas yang kompetitif.
Digitalisasi Distribusi dan Hilirisasi Komoditas Desa
Potensi besar komoditas seperti kakao dan gambir selama ini hanya dinikmati dalam bentuk mentah oleh pasar ekspor. Gubernur menegaskan pentingnya hilirisasi atau pengolahan di tingkat lokal agar nilai tambah ekonomi tetap tinggal di desa. Teknologi pengolahan pascapanen menjadi instrumen penting agar petani tidak lagi hanya mengekspor bahan baku, tetapi produk setengah jadi atau barang jadi yang bernilai tinggi.
Praktik baik telah terlihat pada beberapa pengusaha yang berhasil membawa produk lokal menembus pasar Malaysia. Model ini mengandalkan standarisasi produk yang presisi dan rantai distribusi yang terdigitalisasi, sehingga produk dari pelosok Sumbar memiliki daya saing yang sama dengan produk industri besar di luar negeri.
Transformasi Tenaga Kerja Desa Menuju Sektor Formal
Selain produk, penguatan SDM menjadi fokus melalui program “Apindo UMKM Merdeka”. Sinergi antara dunia usaha, akademisi, dan pemerintah diharapkan mampu mengubah wajah tenaga kerja perdesaan dari sektor informal yang rentan menjadi sektor formal yang lebih tangguh.
Ketua DPN Apindo, Widjaja Kamdani, menekankan bahwa investasi yang masuk ke Sumbar harus mampu menciptakan lapangan kerja luas dan mempercepat penurunan angka pengangguran. Dengan sistem ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan, potensi bencana yang sering melanda tidak akan melumpuhkan denyut nadi ekonomi lokal yang sudah terintegrasi secara digital.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.