Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Desa Sidoasri, wilayah di ujung tenggara Kabupaten Malang, menunjukkan taringnya dalam menjaga aset lokal. Di bawah kepemimpinan Andik Iswanto yang memasuki tahun ketiga, desa ini mengambil langkah berani dengan menolak investor luar untuk mengelola potensi wisatanya. Kebijakan ini diambil demi memastikan sumber daya alam tetap berada di tangan warga tanpa campur tangan kebijakan luar yang menyulitkan.
Strategi “proteksi” ini bukan tanpa alasan. Sidoasri memiliki kekayaan alam yang melimpah, mulai dari pantai perawan Klatakan hingga aliran sungai yang potensial untuk wisata susur sungai. Dengan mengandalkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Pemdes Sidoasri bertekad mengelola sendiri sektor pariwisata, pertanian, hingga peternakan secara maksimal.

Kekayaan Multipintu di Ujung Malang
Potensi agraris Sidoasri tergolong komplit, mencakup komoditas cengkeh, kopi, padi, hingga durian. Di sektor peternakan, kemandirian warga terlihat dari pengelolaan ternak kambing, babi, dan sapi. Langkah maju ini mendapat apresiasi langsung dari Wakil Bupati Malang, Didik Gatot Subroto, yang menilai kepemimpinan Andik berhasil menciptakan terobosan nyata bagi ekonomi kerakyatan.
“Kami bertekad mengelola sumber daya alam secara maksimal. Desa ini punya pertanian, peternakan, pariwisata, hingga dermaga nelayan di pantai Klatakan,” tegas Kepala Desa Sidoasri, Andik Iswanto. Pengelolaan yang terintegrasi ini menjadi fondasi kuat bagi desa yang berada di wilayah Kecamatan Sumbermanjing Wetan tersebut.

Inovasi Perikanan: Tambak Keramba Lepas Pantai
Tak berhenti pada potensi yang sudah ada, Sidoasri mulai membidik teknologi perikanan modern. Rencana besar tahun mendatang mencakup pengembangan program ikan laut unggulan di lepas pantai Sidoasri menggunakan metode tambak keramba. Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan nelayan lokal secara signifikan.
Dengan rencana program yang akan disusun mulai pertengahan tahun ini, Sidoasri membuktikan bahwa desa di lokasi terpencil pun bisa berdaya. Kuncinya terletak pada keberanian pemimpin desa untuk menjaga identitas wilayah dan memastikan setiap jengkal tanah serta airnya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat setempat, bukan bagi pemilik modal dari luar.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.