Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

EKONOMI DESA · 30 Okt 2026 20:08 WIB ·

Siasat Cerdas Ibu-Ibu Padang Sulap Gang Sempit Jadi Cuan


					Siasat Cerdas Ibu-Ibu Padang Sulap Gang Sempit Jadi Cuan Perbesar

Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Wajah Kelurahan Sawahan Timur, Kota Padang, sepintas tak berbeda dengan kawasan urban lainnya. Padat. Rumah-rumah berimpitan, menyisakan gang sempit yang nyaris mustahil ditanami sebatang pohon pun. Di tengah kepungan beton perkotaan ini, keterbatasan spasial justru memicu lahirnya sebuah gerakan ketahanan pangan yang digerakkan oleh jemari para ibu.

Mereka adalah Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Rizki. Kelompok mikro ini membuktikan bahwa dapur kota tidak harus selalu bergantung pada pasokan pasar luar daerah.

Semuanya bermula pada tahun 2020 lalu. Saat pandemi Covid-19 mencengkeram dunia, ruang gerak warga menjadi sangat terbatas. Rini Susanti, penasehat kelompok, mengenang masa-masa sulit itu.

Awalnya, mereka hanya menanam jahe di pot-pot kecil depan rumah sebagai tanaman herbal keluarga. “Untuk jaga kesehatan,” kenangnya.

Langkah kecil ini ternyata menular. Dari pemenuhan mandiri, aktivitas ini menggelinding menjadi komitmen kolektif yang kini melibatkan 20 anggota aktif.

Namun, bertani di kota adalah urusan berdamai dengan ruang. Tanah pekarangan di Sawahan Timur sangat terbatas. Menyadari hambatan geografis ini, mereka mengajukan dukungan prasarana pertanian. Pucuk dicinta ulam tiba. Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhidi, merespons kebutuhan ini dengan menyalurkan bantuan bibit, tempat menanam, hingga rak-rak vertikal intensif.

Rak bertingkat inilah yang menjadi kunci perubahan. Metode vertikal memaksimalkan ruang mikro spasial secara efisien. Di atas rak berukuran ringkas, ratusan polybag bisa berjejer rapi tanpa memakan tempat.

Siklus agronomis berjalan. Setelah dirawat telaten selama sembilan bulan hingga satu tahun, jahe-jahe perkotaan itu memasuki masa panen raya perdana. Hasilnya melimpah. KWT Sumber Rizki memilih tidak menjualnya dalam bentuk mentah. Melalui sentuhan hilirisasi produk, mereka mengolahnya menjadi minuman instan bermerek “Jahe Sumber Rizki”.

Produk unggulan ini bukan lagi sekadar eksperimen dapur. Koperasi berbadan hukum resmi telah didirikan untuk menaungi usaha mereka. Berkat legalitas usaha yang kuat, produk kemasan serbuk jahe ini siap menembus pasar swalayan dan toko oleh-oleh khas Sumatra Barat. Berdasarkan parameter teknis pertanian perkotaan, kapasitas rak intensif mereka mampu memproduksi ratusan kemasan siap jual per siklus besar, menciptakan potensi perputaran ekonomi mikro yang menjanjikan.

Hebatnya, kelompok ini tidak cepat berpuas diri. Skala industri rumah tangga mereka terus diekspansi.

Kini, jika Anda menyusuri pekarangan KWT, variasinya sangat mengagumkan. Ketua KWT, Osriza, membeberkan deretan tanaman yang sekarang tumbuh subur: mulai dari kangkung, terong, cabai, hingga pisang. Strategi diversifikasi tanaman ini dipilih secara cerdas sebagai tameng menghadapi inflasi harga pangan di Kota Padang.

Siklus panennya diatur dengan manajemen kombinasi yang rapi. Untuk kebutuhan dapur harian, mereka memanen kangkung segar setiap 3-4 minggu sekali. Cabai dan terong dipetik berkala setiap minggu untuk menghemat belanja bumbu dapur anggota. Sementara itu, pohon pisang di pinggiran parit kelurahan diolah secara berkala menjadi keripik dan serundeng pisang bernilai jual.

Bahkan, bibit lidah buaya yang ditanam beberapa waktu lalu kini sudah tumbuh subur dan siap dikembangkan menjadi lini produk kosmetik atau minuman segar baru.

“Ibu-ibu di sini rutin bergotong royong setiap minggu,” kata Hardian Ratini, Penyuluh Pertanian Kelurahan Sawahan Timur, penuh kekaguman.

Tradisi gotong royong dan piket harian inilah modal sosial (social capital) terbesar yang menjaga keberlanjutan KWT selama enam tahun terakhir.

Dari gang sempit Sawahan Timur, para perempuan ini mengirimkan pesan kuat bagi seluruh wilayah urban. Keterbatasan lahan bukanlah alasan untuk menyerah pada keadaan. Lewat kreativitas urban farming dan manajemen komunal, ketahanan dapur keluarga bisa ditegakkan, sekaligus membuka keran pendapatan baru dari pekarangan rumah sendiri.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Senjakala Seremonial: Menguji Nyali Digitalisasi di Nagari Pangian

21 Oktober 2026 - 10:25 WIB

Desa Gajah Ponorogo Reformasi Tata Kelola Wakaf Produktif

16 September 2026 - 15:54 WIB

Kemandirian Ekonomi Umat: Gebrakan Muslimat NU Tuntang

1 September 2026 - 15:37 WIB

Menjual Integritas: Tata Kelola Banyubiru Jadi Rujukan Nasional

1 September 2026 - 14:40 WIB

Kisah Perangkat Desa Tuntang Miliki Omset Jambu Puluhan Juta

26 Agustus 2026 - 16:41 WIB

Mengendus Wangi Dupa dan Geliat Rupiah di Petirtaan Ken Dedes

11 Agustus 2026 - 07:36 WIB

Festival Amoghasakti Singhasari 2026.2
Trending di EKONOMI DESA