Blitar, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Misteri asal-usul ikan mujair tidak hanya tertahan di tangan Mbah Moedjair, tetapi juga di meja kerja W.H. Schuster. Sebagai Kepala Penyuluhan Perikanan Jawa Timur era 1930-an, Schuster diduga kuat mencium adanya “orang dalam” atau sosok Mr. X di balik munculnya ikan Afrika di Blitar. Namun, alih-alih membongkar skandal pelepasan ikan ilegal tersebut, sang ilmuwan memilih jalan sunyi demi misi yang lebih besar: ketahanan pangan Hindia Belanda.
Analisis terhadap dokumen primer menunjukkan bahwa Schuster memiliki kejujuran intelektual yang langka. Ia mengakui di depan British Museum London bahwa ikan tersebut adalah Tilapia mossambica, sekaligus menyatakan bahwa asal-usulnya di selatan Jawa akan tetap menjadi “misteri selamanya.” Sikap ini dipandang sebagai langkah strategis untuk mengalihkan fokus dari kontroversi birokrasi menuju solusi protein rakyat.
Pragmatisme di Balik Jubah Ilmuwan
Sebagai pejabat kolonial yang progresif, Schuster menghadapi dilema moral. Jika ia mengejar identitas Mr. X—yang kemungkinan adalah rekan sesama elite Belanda atau administratur perkebunan—ia justru berisiko menghambat penyebaran ikan yang sangat bermanfaat ini.
Ada empat motif utama yang melatarbelakangi sikap “pembiaran” Schuster:
- Prioritas Pangan: Baginya, manfaat praktis ikan mujair bagi pasar Jawa jauh lebih penting daripada perdebatan asal-usulnya.
- Perlindungan Kolega: Menutupi jejak Mr. X guna menghindari masalah legalitas pelepasan spesies asing ke alam liar.
- Penghormatan pada Moedjair: Schuster memilih memberikan kredit penuh kepada Mbah Moedjair sebagai pahlawan lokal daripada mengungkap peran aktor di balik layar.
- Kejujuran Ilmiah: Ia cukup rendah hati untuk mengakui batas pengetahuannya tanpa harus memaksakan teori yang spekulatif.
Diplomasi “Ikan Mudjair”
Langkah Schuster yang paling fenomenal adalah mengusulkan nama “Ikan Mudjair” kepada pemerintah kolonial. Ini adalah bentuk diplomasi paternalistik yang cerdas; ia mengesahkan penemuan tersebut secara otoritas ilmiah Belanda, namun tetap memberikan panggung kehormatan bagi penduduk lokal.
“Schuster bertindak sebagai politisi sekaligus ilmuwan. Ia tahu Pak Moedjair mungkin tidak jujur sepenuhnya, tapi ia pura-pura menerima cerita itu agar fokus pengembangan budidaya tidak terganggu,” tulis analisis sejarah tersebut.
Warisan yang Melampaui Rahasia
Hingga akhir masa tugasnya, Schuster tetap konsisten menjaga narasi “penemuan di laguna” tersebut. Baginya, rahasia Mr. X adalah harga kecil yang harus dibayar untuk sebuah revolusi perikanan darat di Indonesia. Tanpa sikap pragmatis Schuster, ikan mujair mungkin hanya akan menjadi catatan kriminal pelanggaran lingkungan kolonial, bukannya menjadi menu wajib di meja makan jutaan orang hingga hari ini.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.