Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR PUSAT · 8 Agu 2023 08:55 WIB ·

Satu Desa Satu Pendamping: Mimpi Besar Membangun Indonesia


					Satu Desa Satu Pendamping: Mimpi Besar Membangun Indonesia Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA] – Di tengah sorotan penggunaan Dana Desa, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar, melempar gagasan berani: satu desa satu pendamping. Langkah ini dinilai sebagai kunci agar pembangunan tidak lagi sekadar membangun aspal, melainkan benar-benar menyentuh urat nadi ekonomi dan kualitas manusia di pelosok nusantara.

Pria yang akrab disapa Gus Halim ini menegaskan bahwa perencanaan pembangunan desa di seluruh Indonesia kini telah berada di jalur yang benar (on track). Hal ini dibuktikan dengan alokasi Dana Desa 2023 yang sangat berfokus pada dua sektor krusial: pertumbuhan ekonomi sebesar 45,7 persen dan peningkatan kualitas SDM sebanyak 37,1 persen.

“Ini menunjukkan bahwa pembangunan desa sudah berbasis data dan potensi. Dana desa boleh digunakan untuk apa saja selama tidak dilarang, namun fokusnya harus pada ekonomi dan manusia,” ujar Gus Halim saat Rapat Sinergitas Tenaga Pendamping Profesional (TPP) di Banda Aceh, Minggu (6/8/2023).

Pendamping Desa: Sang Sutradara Pembangunan
Sudut pandang menarik muncul ketika Gus Halim menyebut Tenaga Pendamping Profesional (TPP) sebagai sosok krusial di balik keberhasilan ini. Tanpa peran pendamping, Dana Desa terancam menjadi anggaran yang sia-sia atau tidak tepat sasaran. Pendamping desalah yang memetakan masalah, potensi, hingga memastikan setiap rupiah selaras dengan kebutuhan warga.

Menurutnya, publik perlu mengetahui manfaat nyata dari kehadiran pendamping desa, mulai dari tingkat ahli hingga Pendamping Lokal Desa (PLD). Ironisnya, semakin mandiri sebuah desa, beban kerja pendamping justru akan semakin berat. Hal ini dikarenakan fokus pembangunan akan bergeser dari sekadar infrastruktur fisik menuju pemberdayaan masyarakat yang lebih kompleks.

“Obsebsi saya adalah satu desa memiliki satu pendamping. Tugas mereka ke depan tidak main-main karena menyangkut keberlanjutan kemandirian desa,” tambah Doctor Honoris Causa dari UNY tersebut.

Solidaritas di Balik Pengabdian
Di balik prestasi pembangunan, naskah ini juga mengungkap sisi kemanusiaan yang mendalam. Pengabdian para pendamping seringkali dibayar dengan nyawa. Dalam forum tersebut, diserahkan santunan dan Jaminan Hari Tua (JHT) dari BPJS Ketenagakerjaan kepada ahli waris dua pendamping desa yang gugur saat bertugas di Aceh Barat dan Nagan Raya.

Masing-masing keluarga menerima lebih dari Rp43 juta sebagai bentuk penghargaan negara. Tak hanya itu, gerakan solidaritas sesama TPP Aceh juga berhasil mengumpulkan dana tambahan puluhan juta rupiah bagi keluarga rekan mereka. Ini menjadi bukti bahwa ekosistem pendamping desa bukan sekadar hubungan kerja profesional, melainkan ikatan kekeluargaan yang kuat demi satu tujuan: Indonesia yang mulai tumbuh dari desa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 41 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Paradoks Desa Ekspor: Antara Klaim Miliaran dan Realitas 0,6%

27 Oktober 2026 - 19:48 WIB

Membalik Arus: Strategi Prabowo Jadikan Desa Benteng Ekonomi Ekonomi Nasional

14 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Di Balik Seremoni Jembatan Merah Putih Polri: Realitas atau Pencitraan?

14 Agustus 2026 - 17:05 WIB

Warung Pangan ID Food Diperluas, Pasar Tradisional Didorong Putus Rantai Pasok

11 Agustus 2026 - 05:32 WIB

Saat Artificial Intelligence Menembus Batas Desa Mencari Korban TPPO

31 Juli 2026 - 09:35 WIB

Menakar Masa Depan Ekonomi Desa di Balik Sensus 2026

11 Juni 2026 - 14:46 WIB

Trending di KABAR PUSAT