Pasaman, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Bagi Ramadani (58), rintik hujan yang jatuh di atas atap seng rumahnya di Kampung Koto Baru bukan lagi harmoni alam, melainkan ancaman kebocoran yang menyiksa. Bertahun-tahun warga Nagari Ladang Panjang Barat ini bertahan di balik dinding papan dan triplek rapuh yang dipenuhi lubang. Namun, Minggu (22/2/2026) menjadi titik balik ketika sebuah senyuman kembali merekah di wajahnya.
Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, hadir langsung membawa secercah harapan. Lewat program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) hasil kolaborasi bersama BAZNAS Provinsi Sumbar, bantuan senilai Rp25 juta beserta paket sembako diserahkan untuk menyulap hunian memprihatinkan tersebut menjadi tempat bernaung yang bermartabat.
Lebih dari Sekadar Nominal Rupiah
Program bedah rumah melalui program RTLH ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Pemprov Sumbar, sejatinya merupakan manifestasi dari pengelolaan zakat yang tepat sasaran. Vasko menegaskan bahwa kehadiran pemerintah dan BAZNAS adalah bentuk nyata kepedulian terhadap masyarakat ekonomi lemah agar mereka mendapatkan hak dasar berupa hunian layak.
“Ini kami hadir bersama BAZNAS Provinsi Sumatera Barat menyerahkan bantuan senilai Rp25 juta untuk rehab rumah ibu, selain itu, ini juga ada paket sembako. Semoga bermanfaat ya Bu,” kata Vasko. sembari menyemangati Ramadani.
Memantik Api Gotong Royong
Sudut pandang menarik dari kunjungan ini adalah seruan Vasko terhadap penguatan modal sosial. Ia meminta pemerintah nagari hingga tingkat jorong tidak hanya menjadi penonton, tetapi harus menggerakkan warga untuk berswadaya dan bergotong royong dalam proses pengerjaan fisik rumah tersebut.
Efektivitas bantuan ini tidak hanya diukur dari selesainya bangunan, tetapi dari seberapa kuat ikatan persaudaraan antarwarga yang terbangun saat membantu tetangga mereka. Sinergi antara dana stimulus dari BAZNAS dan tenaga swadaya masyarakat inilah yang menjadi kunci percepatan pembangunan di pelosok Pasaman.
Rasa Syukur di Balik Papan Rapuh
Ramadani hampir tidak mampu menahan rasa harunya. Keinginannya memiliki dinding kokoh dan atap tanpa celah kini bukan lagi sekadar mimpi siang bolong. “Kami ingin sekali memperbaiki ini, tapi belum punya uang. Alhamdulillah, terima kasih Pak Wagub dan BAZNAS atas kebaikannya,” ungkapnya penuh syukur.
Bantuan ini menjadi pengingat bahwa di tengah keterbatasan ekonomi, kehadiran negara dan solidaritas warga tetap menjadi tumpuan utama bagi mereka yang membutuhkan pelukan hangat bernama keadilan sosial.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.