Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR PUSAT · 23 Jul 2025 12:54 WIB ·

Rantai Kekerasan Anak di TTS Harus Diputus dari Desa


					Yerim Yos Falo, Wakil Ketua komisi I DPRD TTS juga aktivis Pospera TTS, Ucap Selamat Hari anak dan Kecamatan kekerasan terhadap anak Perbesar

Yerim Yos Falo, Wakil Ketua komisi I DPRD TTS juga aktivis Pospera TTS, Ucap Selamat Hari anak dan Kecamatan kekerasan terhadap anak

Soe, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] Anak-anak di Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, kini menghadapi ancaman nyata di tempat yang seharusnya paling aman bagi mereka: rumah dan lingkungan terdekat. Data lapangan menunjukkan tren mengkhawatirkan di mana ruang domestik perdesaan justru berubah menjadi panggung trauma akibat tingginya angka kasus kekerasan anak di bawah umur.

Ironi ini memicu reaksi keras dari Yerim Yos Falo, aktivis Pospera yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi I DPRD TTS. Tepat pada momentum peringatan Hari Anak, ia menegaskan bahwa perlindungan anak bukan lagi sekadar isu lokal, melainkan perhatian global yang harus diselesaikan mulai dari unit sosial terkecil di desa.

“Stop, tidak ada anak yang pantas menjadi korban kekerasan. Entah itu kekerasan seksual, fisik, maupun verbal,” ujar Yos Falo pada Rabu, 23 Juli 2025.

Menurutnya, akar masalah sering kali bermula dari pembiaran di tingkat keluarga dan komunitas sekampung. Selama ini, ego orang dewasa dan budaya tutup mulut atas nama aib keluarga membuat lingkaran setan ini terus berputar. Mengubah pola pikir kolektif masyarakat desa untuk berani melapor adalah langkah awal yang mutlak.

“Diam bukanlah jawaban. Kaki kecil mereka berhak mendapatkan tempat yang aman untuk berjalan. Jagalah anak-anak agar aman dari pelecehan dan penelantaran,” lanjutnya.

Secara sosiologis, membiarkan kekerasan anak di Timor Tengah Selatan sama saja dengan menyabotase masa depan pembangunan daerah. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan mustahil dapat berkembang menjadi motor penggerak ekonomi desa yang produktif di masa depan.

Memutus rantai kekerasan ini membutuhkan tindakan nyata dari seluruh komponen warga, bukan sekadar retorika seremonial tahunan. Penegakan ruang aman yang bebas dari rasa sakit dan trauma di tingkat akar rumput adalah investasi kemanusiaan tertinggi.

“Melindungi seorang anak adalah tindakan cinta yang tertinggi. Akhiri kekerasan terhadap anak, demi masyarakat yang lebih kuat dan penuh kasih sayang,” pungkas Yos Falo.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 78 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Membalik Arus: Strategi Prabowo Jadikan Desa Benteng Ekonomi Ekonomi Nasional

14 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Di Balik Seremoni Jembatan Merah Putih Polri: Realitas atau Pencitraan?

14 Agustus 2026 - 17:05 WIB

Warung Pangan ID Food Diperluas, Pasar Tradisional Didorong Putus Rantai Pasok

11 Agustus 2026 - 05:32 WIB

Saat Artificial Intelligence Menembus Batas Desa Mencari Korban TPPO

31 Juli 2026 - 09:35 WIB

Menakar Masa Depan Ekonomi Desa di Balik Sensus 2026

11 Juni 2026 - 14:46 WIB

Dana Desa Tahap I di Atambua Tembus 94 Persen

10 Juni 2026 - 15:33 WIB

Trending di KABAR PUSAT