Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

PENDIDIKAN · 21 Des 2025 19:42 WIB ·

Prof. Didik J. Rachbini Kritik Kebijakan PTN yang Diskriminatif dan “Potong Leher”


					Prof. Didik J. Rachbini Kritik Kebijakan PTN yang Diskriminatif dan Perbesar

Prof. Didik J. Rachbini Kritik Kebijakan PTN yang Diskriminatif dan "Potong Leher"

Jakarta [DESA MERDEKA] – Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai menciptakan persaingan tidak sehat antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), Kamis (18/12/2025) di Universitas Paramadina Jakarta.

Ia menilai pernyataan Wamendiktisaintek, Stella Christie, terkait perluasan kuota PTN menunjukkan ketidakpahaman terhadap realitas sosial-ekonomi di lapangan.

Ketidakadilan Anggaran dan Persaingan “Potong Leher”

Prof. Didik menyoroti bahwa PTN saat ini menikmati dana ganda: anggaran besar dari negara (pajak rakyat) sekaligus kebebasan menarik dana masyarakat dengan menambah kuota mahasiswa secara masif. Praktik ini dianggap sebagai strategi “potong leher” yang mengancam eksistensi PTS, termasuk institusi bersejarah seperti milik NU, Muhammadiyah, dan yayasan daerah lainnya.

Kegagalan PTN di Kancah Global

Meski mendapatkan fasilitas melimpah selama lebih dari setengah abad, Prof. Didik menilai PTN masih gagal bersaing di level elite Asia maupun global dibandingkan universitas di Singapura dan Malaysia. Ia melihat birokrasi PTN cenderung membesar dan tidak efisien karena bergantung pada pendanaan yang tidak proporsional.

Solusi: Pemotongan Anggaran dan Skema Keadilan

Sebagai langkah perbaikan, Prof. Didik mengusulkan dua solusi mendasar:

* Redistribusi Fiskal: Memotong 50% anggaran negara untuk PTN dan mengalihkannya secara proporsional kepada PTS agar tercipta persaingan yang adil.

* Pembatasan Kuota Berbasis Keadilan: Jika anggaran tidak dipotong, PTN harus dibatasi kuotanya dengan fokus pada mahasiswa tidak mampu (biaya negara) dan skema subsidi silang yang ketat bagi mahasiswa mampu.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 111 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

DPRD Sumbar Rancang Pendidikan Desa Berstandar Global

17 Juni 2026 - 15:24 WIB

Membangun SDM Desa, Investasi Lebih Berharga dari Beton

12 Juni 2026 - 10:35 WIB

Peran Guru Desa Jaga Kesehatan Mental Siswa

12 Juni 2026 - 10:25 WIB

Evaluasi Makan Bergizi Gratis di Malaka: Tantangan dan Harapan

9 Juni 2026 - 13:59 WIB

Jombang Pastikan Program Sekolah Rakyat Tepat Sasaran

9 Juni 2026 - 00:02 WIB

Pawai Katam Al-Qur’an, Investasi Karakter Generasi Muda Padang

7 Juni 2026 - 13:06 WIB

Trending di PENDIDIKAN