Purbalingga, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Desa Banjaran di Kabupaten Purbalingga berhasil membuktikan bahwa kualitas pendidikan bisa ditingkatkan melalui kebijakan sederhana namun konsisten. Selama lebih dari lima tahun, Pemerintah Desa Banjaran setia menerapkan Peraturan Desa (Perdes) tentang Waktu Belajar Masyarakat guna membangun mentalitas pembelajar sejak dari rumah.
Kebijakan ini mengunci waktu antara pukul 19.00 hingga 21.00 WIB sebagai zona sakral bagi pendidikan anak. Di jam tersebut, suasana desa berubah tenang. Warga secara kolektif bersepakat untuk mematikan televisi, menjauhkan gawai dari jangkauan anak, hingga menunda menerima tamu demi menjaga konsentrasi belajar siswa.

Melawan Ketergantungan Gawai Secara Kolektif
Kepala Desa Banjaran, Muhamad Ichmun, mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan terhadap tingginya ketergantungan anak pada gawai dan televisi. Perdes ini memposisikan orang tua sebagai garda terdepan pendampingan anak. Tanpa perlu menerapkan sanksi hukum, keberhasilan program ini sepenuhnya bertumpu pada kesadaran warga dalam menjaga lingkungan rumah yang kondusif.
Dampak positifnya mulai dirasakan nyata. Angka kelulusan siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi terus merangkak naik. Jika dahulu lulusan SMP mayoritas langsung mencari kerja, kini semangat mengejar pendidikan tinggi menjadi cita-cita baru bagi anak-anak desa.
Estafet Ilmu Hingga Tingkat RT
Program ini juga mendapat dukungan penuh dari tenaga pendidik setempat. Kepala Dusun 5, Anto Budiono, mencatat adanya peningkatan prestasi akademik yang signifikan di wilayahnya. Efisiensi jam belajar ini juga membantu memperbaiki pola tidur anak; setelah pukul 21.00 WIB, anak-anak terbiasa langsung beristirahat sehingga lebih bugar saat berangkat sekolah keesokan harinya.
Ke depan, Desa Banjaran berencana melakukan ekspansi program dengan melibatkan mahasiswa lokal untuk memberikan bimbingan belajar di tiap wilayah RT. Inisiatif ini dipandang sebagai bentuk “estafet ilmu” antargenerasi, mempertegas bahwa urusan pendidikan di desa bukan hanya tanggung jawab guru, melainkan sinergi antara keluarga, tokoh masyarakat, dan pemerintah.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.