Singosari, Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Di bawah bayang-bayang Gunung Bromo yang megah, Desa Wonorejo berdiri sebagai titik paling timur di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Saban hari, angin dingin berembus membawa sunyi. Namun, di dalam ruang rapat balai desa pekan ini, atmosfernya justru memanas.
Aparatur desa, Tim Fasilitasi APBDes, dan Tenaga Pendamping Profesional (TPP) duduk melingkar. Di atas meja, tumpukan berkas Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) APBDes Tahun 2025 dan 2026 berserakan. Di dinding, sebuah replika tulisan kuno menatap mereka dengan bisu: Prasasti Walandit.

Bagi orang luar, rapat evaluasi anggaran adalah urusan birokrasi yang kering dan membosankan. Tapi bagi warga Wonorejo, lembaran angka-angka itu adalah jembatan nasib.
“Kami tidak sedang mencocokkan angka di atas kertas,” bisik salah satu perangkat desa di tengah riuhnya forum. “Kami sedang merancang jembatan agar kemakmuran yang diwariskan leluhur dapat dirasakan oleh anak cucu kami.”
Roh Majapahit di Lembar Anggaran 2027
Wonorejo beruntung. Mereka mewarisi Prasasti Walandit—sebuah piagam batu era Majapahit yang membuktikan wilayah mereka dulu adalah tanah sima (swatantra) yang dibebaskan dari pajak karena kesuciannya. Ribuan tahun lalu, tempat ini makmur. Sialnya, romantisasi masa lalu tidak bisa dipakai untuk membeli beras hari ini.
Sadar akan hal itu, Kepala Desa dan jajarannya menolak membiarkan batu prasasti itu sekadar menjadi pajangan berdebu. Angka-angka di Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa Tahun 2027 dipaksa tunduk pada visi besar: Merebut kembali kejayaan masa lalu melalui kemandirian ekonomi.
Saat ini, Wonorejo sedang bertarung masuk dalam nominasi Desa Adat Nusantara. Status ini bukan gaya-gayaan, melainkan strategi jitu untuk menarik perhatian pusat dan membuka kran anggaran kebudayaan.
Membakar Semangat Lewat BUMDes
Pilar utama pertempuran ekonomi ini ada pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Selama ini BUMDes berjalan konvensional dan monoton. Lewat dana desa 2027, pos anggaran dirombak total untuk mendanai ekowisata dan wisata edukasi berbasis sejarah Prasasti Walandit.
Pemuda desa akan dilatih menjadi pemandu wisata sejarah, sementara ibu-ibu digerakkan memproduksi UMKM kerajinan khas lokal. Budaya bukan lagi tontonan mistis, melainkan komoditas yang menghidupi dapur warga.
Babak Baru Telah Dimulai
Rapat pun berakhir ketika matahari mulai condong ke barat. Sinkronisasi antara Pemdes, Tim Kecamatan, dan Pendamping Profesional akhirnya melahirkan kesepakatan bulat. Anggaran terkunci, target telah dipatok.
Wonorejo mengajari kita satu hal penting: cara terbaik menghormati sejarah bukan dengan meratapinya di museum, melainkan dengan menjadikannya bahan bakar untuk menyusun anggaran masa depan yang adil, mandiri, dan sejahtera. Dari batu Walandit, mereka melangkah menuju kedaulatan ekonomi.

Penulis Desa, Budaya dan Ekonomi Lokal | Pemerhati Masalah Sosial serta Pembangunan Perdesaan

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.