
Digitalisasi Hati dari Desa Langlang: Sigap Melati Percepat Penanganan Stunting
SINGOSARI – Penanganan stunting di Desa Langlang membuktikan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari program yang rumit. Pemerintah Desa Langlang, Kecamatan Singosari, memilih memperkuat kolaborasi sekaligus memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pelayanan Posyandu. Melalui langkah tersebut, pemantauan tumbuh kembang balita menjadi lebih cepat, sementara partisipasi masyarakat terus meningkat.
Komitmen itu mengemuka dalam Rembuk Stunting Desa Langlang yang digelar pada 29 Juni 2026. Pemerintah Desa menghadirkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Kader Pembangunan Manusia (KPM), kader Posyandu, Puskesmas, serta Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari. Selain mengevaluasi capaian, forum tersebut juga menyusun strategi menuju Zero Stunting Tahun 2027.
Penanganan Stunting Desa Langlang Dimulai dari Data dan Kolaborasi
“Tahun sebelumnya, dari 397 balita yang tercatat, sebanyak 36 anak mengalami kurang gizi. Salah satu kendala utama adalah rendahnya kehadiran balita di Posyandu sehingga pemantauan pertumbuhan belum berjalan optimal,” ujar Bidan Desa Langlang.
Oleh karena itu, Pemerintah Desa Langlang mengembangkan Sigap Melati sebagai solusi. Aplikasi ini mengirimkan pengingat jadwal Posyandu kepada orang tua sekaligus menyampaikan hasil penimbangan dan pemeriksaan balita secara real-time. Tidak hanya itu, Sigap Melati juga mengintegrasikan data dari lima Posyandu sehingga kader dan tenaga kesehatan dapat memantau perkembangan balita dengan lebih cepat, lebih tepat, dan lebih akurat.

Sigap Melati Perkuat Pelayanan Posyandu
Selanjutnya, Sigap Melati terhubung dengan aplikasi e-Human Development Worker (eHDW) dari Kementerian Desa. Integrasi tersebut mempercepat proses pendataan, meningkatkan akurasi pelaporan, serta memudahkan pemerintah desa dan tenaga kesehatan mengambil keputusan berdasarkan data di lapangan.
Hasilnya pun mulai terlihat. Dalam satu tahun, Pemerintah Desa Langlang bersama kader Posyandu berhasil menurunkan jumlah balita kurang gizi dari 22 anak menjadi 11 anak. Capaian tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi, inovasi digital, dan pelayanan yang konsisten mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.
Pada akhirnya, Desa Langlang membuktikan bahwa digitalisasi bukan sekadar menghadirkan aplikasi. Sebaliknya, teknologi menjadi jembatan yang mendekatkan pelayanan kepada masyarakat ketika dijalankan dengan semangat gotong royong. Dari Desa Langlang lahir pesan sederhana namun bermakna: setiap anak berhak tumbuh sehat, dan setiap desa memiliki kesempatan yang sama untuk melahirkan Generasi Emas Indonesia 2045.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah praktisi usaha dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang berdomisili di Singosari, Kabupaten Malang. Alumnus SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) tahun 1994 & Universitas Brawijaya 1998,Saat ini menjabat sebagai CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari. Selain aktif di bidang kewirausahaan, ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Forum Handarbeni Singhasari (Fondasi), Pembina Paguyuban Batik Singosari, Pembina Paguyuban Batik Lawang, serta menjadi bagian TPP Kecamatan Singosari sejak tahun 2017
Memiliki pengalaman di bidang jurnalistik sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang,memiliki perhatian besar terhadap pengembangan ekonomi lokal, pelestarian budaya, UMKM, dan pembangunan berbasis potensi masyarakat. Melalui berbagai kegiatan dan tulisan, ia berupaya mendorong kemandirian ekonomi, penguatan kelembagaan masyarakat, serta pelestarian warisan budaya lokal untuk mendukung kemajuan desa dan daerah.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.