Pasaman, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Nagari Panti Selatan di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, sedang membuktikan bahwa dana desa bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan mesin penggerak ekonomi nyata. Melalui alokasi strategis sebesar Rp370 juta pada tahun 2025, pemerintah nagari setempat resmi “menyulap” 22 persen dana desanya untuk membangun benteng ketahanan pangan yang komprehensif dari hulu hingga hilir.
Wali Nagari Panti Selatan, Didi Al Amin, menegaskan bahwa anggaran ini merupakan investasi jangka panjang untuk memandirikan warga. Dari total dana desa sebesar Rp1,68 miliar, pihaknya memilih fokus pada sektor produktif: pertanian, peternakan, hingga infrastruktur vital pascabencana.
Inovasi dari Pekarangan hingga Penangkaran Benih
Strategi yang diterapkan tidak hanya terpaku pada cara bertani konvensional. Nagari ini mengambil langkah progresif dengan mendirikan usaha penangkaran benih padi unggul dan distribusi bibit lokal bersertifikat. Di sektor hortikultura, warga didorong memanfaatkan lahan tidur melalui program Padat Karya Tunai (PKT) untuk menanam jagung manis, cabai, dan bawang.
Tak berhenti di sana, konsep “Rumah Pangan Lestari” diaktifkan kembali untuk memastikan setiap pekarangan rumah warga menjadi penyedia nutrisi mandiri. Empat paket rumah bibit sayuran juga disiapkan sebagai fasilitas pendukung bagi para petani lokal.
Diversifikasi Ternak dan Perhutanan Sosial
Di sektor protein, fokus dialihkan pada budidaya Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) dan itik petelur. Sementara itu, untuk mendukung kelestarian alam dan ekonomi hijau, Nagari Panti Selatan membudidayakan bibit alpukat bersertifikat serta bibit kopi melalui Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN).
Agar bantuan fisik ini tidak sia-sia, pemerintah nagari melengkapinya dengan Sekolah Lapangan (SL). Program edukasi ini memastikan para petani memiliki skill yang mumpuni dalam mengelola komoditas padi, hortikultura, hingga peternakan secara modern dan efisien.
Jembatan Gantung: Nadi Ekonomi yang Kembali Berdenyut
Poin paling krusial dalam anggaran tahun ini adalah pembangunan jembatan gantung di Jorong Ampang Gadang senilai Rp160 juta. Jembatan yang sempat terputus akibat banjir besar Desember 2024 ini merupakan akses tunggal pengangkutan hasil tani.
“Kami menyadari infrastruktur adalah kunci. Tanpa jembatan yang layak, hasil panen melimpah pun sulit menjangkau pasar. Pembangunan ini menjadi prioritas agar aktivitas ekonomi masyarakat kembali pulih dan berjalan lancar,” ujar Didi Al Amin.
Langkah Nagari Panti Selatan ini menjadi model percontohan bagaimana pemerintah tingkat desa bisa berperan sebagai agen perubahan ( agent of change ) yang tidak hanya menyalurkan dana, tetapi juga membangun kemandirian pangan yang berkelanjutan.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.