Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

OPINI · 26 Apr 2023 06:30 WIB ·

Mudik: Momentum Kontribusi Urban Bangun Desa Mandiri


					<em>Suasana desa saat libur Lebaran, penuh kehangatan dan kebersamaan</em> Perbesar

Suasana desa saat libur Lebaran, penuh kehangatan dan kebersamaan

Opini [DESA MERDEKA] Pemudik Lebaran 2023 sukses mencatatkan rekor baru dalam hal jumlah, sepanjang sejarah mudik. Arus mudik tahun ini meroketkan jumlah pemudik sebanyak 45%, dari 86 juta menjadi 123 juta orang.

Sebagai ritual tahunan, sejatinya mudik merupakan modal sosial untuk memperkuat kohesi masyarakat kota dan desa. Tak peduli derasnya arus modernitas yang terus berubah dari masa ke masa dan tingginya gaya hidup warga perkotaan, kerinduan terhadap kampung halaman tak pernah pupus. Walhasil, berbagai cara dilakukan dengan keras agar pemudik bisa berada di desa tepat pada saat Lebaran. Tekad untuk mudik tak pernah menyurut, walaupun gambaran suram dan melelahkan, seperti terjebak macet berjam-jam, selalu membayangi setiap perjalanan mudik.

Fenomena mudik sebenarnya merupakan kearifan lokal yang patut dibanggakan, seperti silaturahmi di antara sesama keluarga, juga dengan tetangga dan warga lain di desa. Dalam sebuah acara halalbihalal yang dihadiri oleh pemudik dari Jakarta, biasanya disampaikan berbagai persoalan dalam keluarga, seperti berita buruk atau baik. Tak segan pimpinan di desa itu menyampaikan kebutuhan bantuan dana kepada para pemudik untuk pembangunan masjid, musala, madrasah, jembatan, sarana olahraga, dan fasilitas publik lainnya. Mudik juga membuktikan bahwa kaum urban atau warga yang tinggal di kota mengamalkan ungkapan “kacang tidak lupa kulitnya”. Jiwa mereka tetap terkoneksi dengan kampung halaman.

Revitalisasi Semangat Mudik
Meskipun demikian, semangat mudik harus direvitalisasi. Pemudik harus memberikan kontribusi demi kemajuan desa. Ini tidak hanya bersifat bantuan dana, melainkan kemampuan soft skill untuk para pemuda di desa. Mereka harus diberikan pelatihan menjadi pemuda desa yang mandiri. Misalnya, pelatihan keterampilan membuat berbagai bisnis, oleh-oleh kampung, wisata desa, hingga pemasaran digital (digital marketing).

Proses transfer knowledge dari pemudik ke warga desa memberikan sumbangsih untuk ketahanan desa, di mana warga bisa berkarya dan menghidupi diri sendiri, keluarga, dan lingkungannya.

Pariwisata Berkelanjutan sebagai Solusi
Konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) di desa sangat tepat dilakukan. Pembangunan pariwisata tidak sekadar mengumpulkan uang tiket masuk. Ekosistem kepariwisataan pun harus dibangun sehingga memiliki dampak berganda secara ekonomi bagi masyarakat.

Menurut definisi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata yang memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, sosial, budaya, serta ekonomi untuk masa kini dan masa depan, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.

Kementerian yang dipimpin oleh Sandiaga Uno menyiapkan tujuh desa di Indonesia untuk menjadi contoh keberhasilan dari konsep sustainable tourism. Salah satunya adalah wisata di Desa Pujon Kidul, 30 km dari pusat Kota Malang. Lokasinya berada di dataran tinggi sehingga memiliki lingkungan sejuk dan keasrian alam yang memesona. Beberapa atraksi wisata yang dilakukan di destinasi yang dikelola anak muda ini adalah menanam sayuran, memetik sayuran, hingga memerah susu sapi. Menariknya, ada juga Kafe Sawah yang dikelola Badan Usaha Milik Desa Pujon Kidul di Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pariwisata berkelanjutan tidak boleh menjadi jargon saja dalam pembangunan. Jika menjadi jargon, pembangunannya pun hanya sekadar proyek. Setelah diresmikan oleh pejabat, tak berapa lama kemudian akan berhenti. Karena itu, konsep pariwisata tersebut harus memiliki diferensiasi, seperti apa kelebihan desa itu yang tidak dimiliki desa lainnya. Misalnya, apakah keunikan budaya dan tradisi masyarakat desa tersebut memberikan daya tarik untuk pengembangan pariwisata. Termasuk pula soal manajemen pengelolaan pariwisata yang baik. Pengelolaan harus berdasarkan prinsip good governance (akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi).

Dana Desa dan Tantangan Urbanisasi
Pembangunan desa menjadi perhatian pemerintah setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Alokasi dana desa pada 2015 sebesar Rp20,77 triliun, dan pada 2021 menjadi Rp72 triliun, atau meningkat 3,5 kali lipat. Total dana desa sampai 2022 mencapai Rp468,9 triliun.

Kendati begitu, aliran dana yang besar ke desa masih belum bisa membendung laju anak muda mencari peruntungan di kota. Dana desa gagal membuat ‘gula-gula’ di kampung untuk menahan laju urbanisasi. Sayangnya, di balik besarnya arus dana desa, beberapa kasus korupsi muncul. Belum lagi politisasi perangkat desa menjelang Pemilu 2024. Membangun desa memerlukan mental pejuang, bukan pemburu proyek sehingga menilap dana desa. Indonesia harus diperkuat dari desa.

Dukungan Semua Pihak
Membangun desa yang kuat dan mandiri memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Diperlukan upaya yang terus-menerus dan konsisten agar desa bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Selain itu, diperlukan juga dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan pengusaha lokal.

Pemerintah bisa memberikan dukungan dalam bentuk bantuan dana dan program pelatihan bagi pemuda desa. Bantuan dana bisa digunakan untuk membangun infrastruktur, sementara program pelatihan bisa untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan pemuda desa dalam berbagai bidang, seperti pertanian, perikanan, dan pengelolaan pariwisata.

Masyarakat juga bisa memberikan dukungan dengan cara membeli produk-produk lokal yang dihasilkan oleh desa. Dengan cara tersebut, masyarakat bisa membantu meningkatkan ekonomi desa dan memperkuat kemandirian desa. Selain itu, masyarakat juga bisa berpartisipasi dalam kegiatan gotong-royong dan acara budaya.

Pengusaha lokal juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk investasi dan pelatihan bagi masyarakat desa. Investasi bisa digunakan untuk membantu pengembangan usaha mikro dan kecil di desa, sedangkan pelatihan bisa digunakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat desa.

Dengan adanya dukungan dari semua pihak, diharapkan desa bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Desa yang kuat dan mandiri akan menjadi basis yang kokoh bagi pembangunan Indonesia ke depannya. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama membangun desa yang kuat dan mandiri untuk Indonesia yang lebih baik.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 38 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sengketa Plasma Tana Tidung: Masyarakat Desa Terjepit Bagi Hasil

10 Mei 2026 - 23:56 WIB

Senjakala Etalase Ekonomi Jombang: Dibalik Gemerlap Digital dan Ancaman Kemiskinan

10 Mei 2026 - 15:31 WIB

Tambang Menjelutung: Produksi Batu Bara Lancar Tapi Keadilan Macet

8 Mei 2026 - 23:49 WIB

Akhiri Dominasi Jakarta Saat Desa Mulai Rebut Kendali Narasi

4 Mei 2026 - 12:13 WIB

Mahasiswa KKN: Katalisator atau Sekadar Tamu Dokumentasi Desa?

3 Mei 2026 - 22:01 WIB

Jual Beli Rekomendasi Kerja: Borok Pelayanan Desa Menjelutujung

3 Mei 2026 - 20:59 WIB

Trending di OPINI