Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Jalan mulus dan jembatan kokoh mungkin memanjakan mata, namun bagi Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhidi, itu bukan pencapaian puncak sebuah daerah. Di sela Pelatihan Konvensi Hak Anak (KHA) di Padang, Kamis (11/6/2026), ia melontarkan kritik reflektif: “Beton dan aspal bisa dibangun lalu selesai, tapi membangun SDM membutuhkan keterlibatan lintas generasi dan visi yang panjang.”
Bagi masyarakat di nagari-nagari Sumatera Barat, pesan ini adalah pengingat bahwa masa depan desa tidak ditentukan oleh seberapa lebar jalannya, melainkan oleh seberapa aman anak-anak di sana tumbuh. Untuk mewujudkan sekolah ramah anak dan desa layak anak, ada ratusan elemen yang harus dipenuhi—mulai dari sistem kelembagaan hingga pemenuhan hak sipil anak. Ini jauh lebih rumit daripada sekadar mengecor jalan, karena melibatkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap tumbuh kembang generasi penerus.

Di nagari, lingkungan keluarga dan sekolah adalah pilar utama pembentukan karakter. Muhidi menekankan empat pilar penyangga: iman, akhlak, kasih sayang, dan ilmu pengetahuan. Keempatnya adalah “infrastruktur” tak kasat mata yang akan menentukan nasib Sumatera Barat 20 hingga 30 tahun ke depan. Jika anak-anak di pelosok nagari bisa belajar tanpa rasa takut dan tanpa bullying, maka potensi mereka akan meledak secara maksimal.
Langkah DPRD Sumbar melalui Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2021 memang telah mengokohkan perlindungan anak. Namun, status “layak anak” bukanlah garis finis. Ini adalah proses berkelanjutan yang menuntut setiap desa untuk berbenah. Sekolah ramah anak yang digalakkan di kota harus “menjalar” hingga ke pelosok kecamatan, memastikan bahwa setiap anak, termasuk mereka yang difabel atau terdampak bencana, mendapatkan hak yang sama.
Pada akhirnya, jalan dan jembatan akan retak dimakan waktu. Namun, generasi yang cerdas, berakhlak, dan berdaya saing adalah warisan yang tak akan lapuk. Saat pemerintah desa mulai beralih fokus dari sekadar membangun fisik menuju pembangunan jiwa, itulah saat di mana desa sesungguhnya sedang membangun peradaban. Inilah investasi paling mahal, yang dampaknya baru akan kita tuai saat beton-beton pembangunan hari ini telah lama tak lagi terlihat.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.