Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

PEMERINTAHAN · 12 Agu 2025 09:52 WIB ·

Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Melambat, Mengapa Tingkat Kemiskinan Turun?


					Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Melambat, Mengapa Tingkat Kemiskinan Turun? Perbesar

Oleh: Medi Iswandi (Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Barat)

Opini [DESA MERDEKA] Kritik terhadap capaian pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan II tahun 2025 merupakan bentuk kepedulian yang perlu diapresiasi. Kekhawatiran ini wajar, sebab laju pertumbuhan ekonomi Sumbar masih berada di bawah rata-rata nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi Sumbar hingga pertengahan tahun 2025 hanya mencapai 3,94%, sebuah angka yang menjadi pengingat untuk terus berbenah.

Namun, mengukur kesejahteraan daerah tidak bisa hanya berpatokan pada angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Salah satu indikator yang lebih langsung mencerminkan kualitas hidup masyarakat adalah tingkat kemiskinan, dan di sektor ini, Sumatera Barat justru menunjukkan kemajuan yang patut dibanggakan.

Dalam setahun terakhir, BPS mencatat penurunan tingkat kemiskinan secara konsisten:

  • Maret 2024: 5,97% (345.730 jiwa)
  • September 2024: 5,42% (315.430 jiwa)
  • Maret 2025: 5,35% (312.250 jiwa)

Data ini menunjukkan bahwa lebih dari 33.000 penduduk berhasil keluar dari garis kemiskinan. Pencapaian ini sangat signifikan, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Jika ditelusuri lebih dalam, ada beberapa hal yang memberikan optimisme:

1. Konsumsi Rumah Tangga Tetap Kuat Daya beli masyarakat relatif stabil, didukung oleh peningkatan kredit konsumsi dan tabungan, terutama menjelang hari raya dan liburan sekolah. Penurunan penjualan kendaraan bermotor justru mencerminkan sikap belanja yang lebih selektif, bukan penurunan daya beli secara keseluruhan.

2. Belanja Pemerintah Belum Optimal Realisasi belanja pemerintah, khususnya dari pusat, masih didominasi oleh belanja pegawai. Sementara itu, belanja modal dari APBN justru menurun drastis sebesar 58,45%. Alokasi anggaran di masa mendatang harus lebih produktif dan diarahkan pada sektor yang mendorong pertumbuhan ekonomi riil.

3. Investasi Menunjukkan Perkembangan Berbeda Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menunjukkan pertumbuhan pesat hingga 72,07%. Namun, Penanaman Modal Asing (PMA) justru turun 8,13%, dan penurunan impor barang modal sebesar 89,33% mengindikasikan investasi belum merata ke sektor industri.

4. Sektor Ekspor Menjadi Penopang Utama Kinerja ekspor menguat berkat kenaikan harga komoditas seperti Crude Palm Oil (CPO), minyak nabati, dan bahan kimia. Namun, ketergantungan pada komoditas tertentu berisiko jika harga global berfluktuasi. Karena itu, diversifikasi ekspor menjadi keharusan.

5. Mayoritas Sektor Usaha Tumbuh Positif Beberapa sektor menunjukkan pertumbuhan impresif, antara lain:

  • Informasi dan Komunikasi: Tumbuh 9,51% berkat permintaan data dan pembangunan BTS baru.
  • Pertanian: Tumbuh 4,06%, ditopang sektor perikanan dan peternakan.
  • Perdagangan: Tumbuh 3,67% seiring dengan meningkatnya transaksi daring.
  • Transportasi dan Pergudangan: Tumbuh 3,03% seiring peningkatan mobilitas.

Namun, sektor Konstruksi (-0,02%) dan Akomodasi dan Makan Minum (-0,65%) masih tertekan akibat lambatnya realisasi proyek fisik dan pemulihan pariwisata yang belum merata.

Gambaran ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan tetap ada, Sumatera Barat memiliki fondasi kuat untuk bangkit. Penurunan angka kemiskinan, terjaganya konsumsi, pertumbuhan sektor pertanian, dan lonjakan PMDN adalah modal penting untuk mencapai target pertumbuhan 4,7% dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2025.

Ke depan, fokus utama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat adalah mempercepat realisasi belanja strategis, memperluas diversifikasi ekspor, menciptakan iklim investasi yang sehat, dan memperkuat kolaborasi antarwilayah. Diperlukan juga evaluasi menyeluruh terhadap kinerja aparatur dan organisasi perangkat daerah dalam menyongsong Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2030 yang lebih ambisius.

Masukan dan kritik konstruktif dari semua pihak sangat dibutuhkan. Dengan sinergi yang solid dan kebijakan yang tepat sasaran, Sumatera Barat tidak hanya berpeluang keluar dari papan bawah pertumbuhan ekonomi, tetapi juga siap melangkah menuju kemajuan berkelanjutan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 41 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Retret Akmil: Gembleng Pimpinan DPRD Demi Pembangunan Desa Efektif

20 April 2026 - 08:36 WIB

Lilin Desa: Visi Hatta Lewat Jutaan Bibit Kelapa

4 April 2026 - 19:39 WIB

Cair Serentak: Strategi Amankan Rp900 Ribu dari Dana Desa

16 Maret 2026 - 06:34 WIB

Jalan Tol Hasil Bumi: Ambisi Mendes Yandri untuk Yahukimo

11 Maret 2026 - 21:03 WIB

Duet Kemendes-BAPPISUS: Perkuat Daya Gedor Ekonomi Desa

11 Maret 2026 - 04:55 WIB

Kedaulatan Data Jadi Kunci Pembangunan Tepat Sasaran

6 Maret 2026 - 21:21 WIB

Trending di PEMERINTAHAN