Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

LINGKUNGAN · 20 Nov 2025 07:37 WIB ·

Mataram Darurat: Warga Kampung Bugis Menanti Tanggul Permanen Rob


					Mataram Darurat: Warga Kampung Bugis Menanti Tanggul Permanen Rob Perbesar

Ancaman Siklus Tahunan Banjir Rob dan Abrasi, Puluhan Warga Kampung Bugis Mataram Mengungsi

Mataram, Nusa Tenggara Barat [DESA MERDEKA] Kehidupan warga di Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, berada dalam kondisi darurat akibat ancaman siklus tahunan banjir rob dan gelombang pasang yang masif. Abrasi terus menggerus garis pantai, menyebabkan puluhan rumah tak layak huni dan memaksa warga mengungsi ke rumah kerabat. Di tengah rencana pembangunan ambisius kota, warga pesisir hanya bisa menanti realisasi solusi permanen berupa tanggul paten yang tak kunjung dibangun.

Kondisi di salah satu sudut pantai Mataram ini menunjukkan betapa mendesaknya situasi. Setiap musim penghujan tiba, warga berhadapan dengan pertarungan abadi melawan alam. Deru angin dan gelombang yang mengganas telah mengubah bibir pantai menjadi medan kerusakan, menghancurkan permukiman, dan menghilangkan aset hidup mereka secara bertahap.

Kerusakan Parah dan Solusi Darurat yang Tak Memadai
Pemandangan di lokasi menunjukkan kerusakan parah. Pasir pantai berwarna hitam pekat kini dipenuhi sampah laut dan puing-puing kayu yang terbawa ombak, bersanding dengan sisa-sisa tembok dan fondasi bangunan yang roboh dan tergerus setelah dihantam gelombang pasang berulang kali.

Saat ini, satu-satunya pertahanan warga adalah tumpukan karung raksasa berisi pasir yang berfungsi sebagai tanggul darurat. Namun, tumpukan seadanya ini terlihat compang-camping dan sama sekali tidak mampu membendung amukan air laut yang setiap saat naik. Solusi sementara ini jauh dari memadai untuk melindungi permukiman dari kekuatan rob dan abrasi yang destruktif.

Dampak abrasi di Kampung Bugis melampaui sekadar kerusakan infrastruktur, tetapi langsung merenggut tempat tinggal. Bagi Zainul (35), salah seorang warga, gelombang pasang yang menerjang adalah malapetaka pribadi. Rumahnya kini sudah tak bisa ditempati lagi, menyisakan puing-puing yang tergerus di bibir pantai. “Sekarang tinggalnya di rumah mertua,” ujar Zainul, menggambarkan pahitnya kondisi yang dialami puluhan keluarga lain.

Warga berharap pemerintah daerah dapat segera merealisasikan pembangunan tanggul permanen yang mampu bertahan melawan siklus alam tahunan ini. Mereka membutuhkan kepastian hunian yang aman dan layak di kawasan pesisir Mataram yang strategis tersebut, tanpa harus khawatir pindah ke rumah kerabat setiap kali musim pasang tiba. Keberadaan tanggul paten dianggap sebagai kunci untuk menjaga keberlanjutan hidup dan ekonomi masyarakat pesisir di Kampung Bugis.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 32 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ancaman Agraria dan Bencana Ekologis Desa di Banjarnegara

26 Mei 2026 - 13:07 WIB

Bantuan Mobil Sampah Pangkas Transit Limbah Tarempa Barat

22 Mei 2026 - 16:34 WIB

Menguji ‘Nawaitu’ Warga Gununggempol Jadi Kiblat Sampah Nasional

18 Mei 2026 - 15:43 WIB

Benteng Akar Bambu: Cara Warga Naiola Menjinakkan Erosi Sungai

18 Mei 2026 - 14:59 WIB

Menagih Janji Bupati Saat Desa Sukses Mandiri Sampah

8 Mei 2026 - 04:40 WIB

Jumat Bersih Bantarjaya: Melawan Ego Pembuang Sampah “Sambil Lewat”

17 April 2026 - 10:29 WIB

Trending di LINGKUNGAN