Sragen, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Masalah akurasi batas wilayah sering kali menjadi “bom waktu” bagi pembangunan desa di Indonesia. Menyadari hal tersebut, Renisa Oktafirayani, mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro (Undip), melakukan terobosan dengan melakukan pemetaan digital dan fisik untuk Desa Cepoko, Sumberlawang, Sragen, pada periode KKN Tim 1 2024/2025.
Langkah ini diambil karena dokumen administratif di perangkat desa selama ini belum terdokumentasi secara lengkap, terutama pada level mikro seperti batas kebayan, dukuh, hingga RT. Padahal, tanpa data spasial yang akurat, pembangunan desa berisiko salah sasaran atau bahkan memicu sengketa wilayah di masa depan.
Menutup Celah Data Melalui Wawancara Mendalam
Pelaksanaan program ini tidak berjalan mulus. Renisa menemukan tantangan besar berupa minimnya informasi dasar mengenai pembagian wilayah kebayan dan RT dalam basis data desa yang ada. Untuk mengatasinya, ia melakukan metode “jemput bola” dengan mewawancarai para Kepala Kebayan guna menggali informasi sejarah dan batas fisik administratif.
Proses pemetaan ini merupakan hasil kolaborasi metode teknis dan sosial, yang menggabungkan:
- Wawancara Tokoh Lokal: Mengambil data kualitatif dari Kepala Kebayan.
- Observasi Lapangan: Memvalidasi data dengan kondisi riil di permukaan tanah.
- Data Spasial Eksisting: Mengolah data satelit untuk menghasilkan peta yang presisi.
Digitalisasi untuk Masa Depan Desa
Hasil akhir dari program monodisiplin ini berupa peta administrasi dalam format cetak dan digital. Data ini nantinya diintegrasikan ke dalam Sistem Informasi Desa (SID) Desa Cepoko agar lebih efektif dalam menyajikan informasi wilayah kepada publik.
Bagi pemerintah desa, peta ini adalah instrumen strategis untuk merancang tata ruang dan perencanaan pembangunan berbasis data (evidence-based policy). Sedangkan bagi masyarakat, kejelasan batas wilayah memberikan kepastian administratif dan mempermudah pemahaman mengenai ruang lingkup hunian mereka. Pemetaan ini bukan sekadar tugas kuliah, melainkan warisan basis data yang krusial bagi keberlanjutan pembangunan Desa Cepoko di masa depan.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.