Soe, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) bersama dosen dari Institut Pendidikan Soe (IPS) sukses melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Tumu, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Kegiatan yang bertajuk “Lopo Literasi Desa dan Pelatihan Pengolahan Singkong sebagai Pangan Lokal Alternatif untuk Meningkatkan Gizi Keluarga” ini berlangsung pada 8 Mei 2025.
Program PkM ini berfokus pada dua inisiatif utama: pembangunan Lopo Literasi sebagai pusat pengembangan literasi masyarakat dan pelatihan pengolahan singkong (Manihot esculenta Crantz) sebagai alternatif pangan lokal bergizi.
Membangun Budaya Literasi Melalui Lopo
Program pertama adalah pembentukan Lopo Literasi, sebuah rumah baca berbasis kearifan lokal. Lopo ini tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga berfungsi sebagai ruang belajar aktif bagi anak-anak. Melalui program ini, mahasiswa KKNT melatih anak-anak Desa Tumu untuk meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Pembangunan Lopo Literasi ini merupakan hasil gotong royong antara mahasiswa, masyarakat, dan aparat desa.
Lopo Literasi diharapkan menjadi tempat strategis untuk memperkuat budaya membaca, memperluas wawasan masyarakat, dan membangun komunitas belajar yang inklusif. Beragam kegiatan yang diselenggarakan di dalamnya meliputi kelas baca-tulis, storytelling, serta diskusi kreatif antar generasi muda. “Lopo Literasi ini bukan hanya soal buku, tapi juga tentang masa depan anak-anak Tumu,” ungkap Kepala Desa Tumu, Bapak Simon P. N. Kebkole.
Pelatihan Olahan Singkong untuk Gizi dan Ekonomi
Program kedua adalah pelatihan pengolahan singkong menjadi makanan bernilai gizi tinggi. Pelatihan yang dilaksanakan pada 5 Mei 2025 ini diikuti oleh 35 peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga, anggota PKK, perangkat desa, dan petugas kesehatan. Peserta dilatih untuk membuat berbagai produk olahan lokal seperti tape goreng, wedang tape, tiwul, dan roti singkong. Produk-produk ini tidak hanya mudah dibuat, tetapi juga memiliki nilai gizi tinggi dan berpotensi dikembangkan sebagai usaha rumahan.
Data menunjukkan hasil yang menggembirakan dari pelatihan ini. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 50,2 menjadi 80,5, dengan kenaikan rata-rata 30,3 poin. Ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan peserta terkait pengolahan singkong, nilai gizi, serta potensi ekonomi produk lokal. “Saya baru tahu ternyata singkong bisa dijadikan roti dan rasanya enak sekali. Ini bisa jadi usaha sampingan juga,” tutur salah satu peserta pelatihan.
Menjawab Ketahanan Pangan dengan Potensi Lokal
Singkong sebagai bahan pangan lokal terbukti memiliki potensi besar, tidak hanya untuk meningkatkan gizi keluarga, tetapi juga sebagai alternatif makanan pokok yang mendukung ketahanan pangan daerah. Olahan seperti tiwul dan tape memiliki nilai tradisional yang kuat dan dapat menjadi daya tarik ekonomi jika dikelola dengan baik.
Tim dosen dan mahasiswa KKNT berharap pelatihan ini menjadi awal dari gerakan pemanfaatan pangan lokal secara berkelanjutan di Desa Tumu. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan gizi keluarga, sehingga kebutuhan nutrisi anak-anak dapat terpenuhi dengan optimal.
Meskipun kegiatan belum mencapai tahap pemasaran produk, keterampilan dasar yang telah dikuasai masyarakat menjadi modal penting untuk pengembangan lebih lanjut. Ke depannya, kegiatan serupa diharapkan dapat dilanjutkan dengan pelatihan pengemasan, pemasaran digital, hingga branding produk berbasis desa. Ketua Tim, Dian Ristiani Sabat, S.Si., M.Pd, mengungkapkan bahwa kolaborasi antara Institut Pendidikan Soe (IPS) dan masyarakat ini membuktikan bahwa pendidikan, literasi, dan pemanfaatan pangan lokal dapat menjadi motor penggerak perubahan positif di desa.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.