Mojokerto, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Limbah kulit kopi yang selama ini hanya menjadi tumpukan sampah, kini bertransformasi menjadi sumber harapan baru bagi warga Desa Jembul, Mojokerto. Melalui program pelatihan yang digagas Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI) Universitas Airlangga (UNAIR), masyarakat belajar mengolah limbah pascapanen kopi menjadi lilin aromatik bernilai jual tinggi.
Kegiatan inovatif ini berlangsung selama tiga hari, dari Selasa hingga Kamis (1-3/7/2025), berlokasi di Balai Desa Jembul. Pelatihan ini melibatkan 43 warga, terdiri dari ibu-ibu PKK dan pemuda Karang Taruna. Dengan pendekatan community-based training (CBT), program ini dirancang tidak hanya untuk mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan bisnis dan strategi keberlanjutan usaha.
“Warga, terutama kader PKK, siap membantu seluruh kegiatan yang akan terlaksana. Tinggal menghubungi dan menginformasikan saja. Kami di sini sangat terbuka dengan kegiatan pengembangan yang dilakukan untuk warga-warga sini,” sambut Sekretaris Desa Jembul, Ainur Rofiq, saat pembukaan acara.

Tiga Hari Menuju Transformasi Ekonomi Lokal
Hari pertama pelatihan berfokus pada pembekalan wawasan mengenai konsep ekonomi sirkular. Peserta diajak memahami siklus limbah kulit kopi serta peluang yang muncul dari pengelolaan limbah yang bertanggung jawab. Ini adalah langkah awal untuk menanamkan kesadaran akan potensi ekonomi dari sumber daya yang sebelumnya terbuang.
Pada hari kedua, menjadi titik praktik inti. Peserta mempelajari proses pembuatan lilin dari awal: mulai dari pencampuran bahan, formulasi, pencetakan, hingga pengemasan produk. Formula standar yang digunakan merupakan hasil uji coba delapan tahap sebelumnya, yaitu perpaduan soy wax, parafin, bubuk kulit kopi, dan essential oil kopi, memastikan kualitas dan aroma khas.
Hari ketiga mengajarkan strategi branding dan teknik pemasaran digital. Peserta mendapatkan pelatihan bagaimana membuat visual produk yang menarik, menentukan merek yang kuat, hingga menyusun strategi penjualan efektif di media sosial. Tujuan akhirnya adalah melahirkan wirausaha mandiri di tingkat desa, sehingga produk lilin kopi ini bisa dikenal luas.
“Dengan tidak hanya mengajari cara membuat lilin, tetapi juga cara melakukan branding dan memasarkannya secara digital, program ini menanamkan fondasi yang kuat bagi para peserta untuk dapat melanjutkan dan mengembangkan usaha ini secara mandiri setelah pelatihan selesai,” ujar Habib Muhammad Al Khaq, SC kegiatan UKMKI Goes To Village.
Dampak Berlapis dan Komitmen terhadap SDGs
Program ini jauh lebih dari sekadar produksi lilin. Ini adalah solusi nyata untuk dua persoalan utama di Desa Jembul, yaitu menumpuknya limbah kulit kopi dan rendahnya pendapatan petani. Inisiatif ini diproyeksikan dapat meningkatkan pendapatan peserta hingga 20 persen dalam semester pertama. Secara lingkungan, limbah berkurang hingga 90 persen, dan secara sosial, motivasi warga untuk berwirausaha naik hingga 50 persen.
Program ini juga dirancang untuk mendukung tiga poin utama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs): SDGs 1 Tanpa Kemiskinan, melalui peningkatan ekonomi rumah tangga; SDGs 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dengan pelatihan keterampilan produksi dan bisnis; serta SDGs 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular. “Yang membedakan program ini adalah pendekatannya yang lengkap. Tidak hanya mengajari membuat produk, tapi juga mengajarkan cara mengelola usaha dan memasarkannya,” jelas Habib.
Respons masyarakat sangat positif. Beberapa anggota Karang Taruna yang awalnya hanya datang untuk melihat, akhirnya turut serta dalam praktik pembuatan lilin. Sebagai langkah lanjutan, UKMKI UNAIR mendorong pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) agar produksi lilin kopi bisa berlanjut secara mandiri dan menjadi identitas ekonomi baru Desa Jembul.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.