Mentawai, Sumatera Barat[DESA MERDEKA] – Di tengah hiruk-pikuk kapal pesiar raksasa yang mendominasi pelabuhan utama, sebuah kapal berdesain ramping asal Prancis, Le Jacques-Cartier, sedang melakukan “revolusi sunyi” di perairan nusantara. Kapal milik Compagnie du Ponant ini tidak sekadar menawarkan kemewahan, tetapi membawa konsep expedition-style yang berani menembus destinasi paling terpencil di Indonesia, dari Air Terjun Kitikiti di Papua hingga Pulau Banyak di Aceh.
Le Jacques-Cartier bukan kapal pesiar biasa. Dengan kapasitas terbatas hanya 184 penumpang, kapal ini menawarkan intimasi yang mustahil didapatkan di kapal raksasa. Fitur paling ikonik sekaligus “out of the box” adalah Blue Eye, sebuah observatorium bawah air yang terletak di bawah garis air. Di sini, penumpang bisa menyesap segelas wine sambil menonton dan mendengar suara kehidupan laut secara langsung melalui teknologi sensor inovatif.
Menjelajah Jalur yang Terlupakan
Sepanjang Desember 2025 hingga Januari 2026, Le Jacques-Cartier memecah kebuntuan rute wisata konvensional. Jika mayoritas kapal pesiar hanya berputar di Bali dan Labuan Bajo, kapal ini justru “blusukan” ke wilayah yang jarang tersentuh radar turis dunia.
Berdasarkan data rute terbaru, setelah berangkat dari Benoa, Bali pada akhir Desember 2025, kapal ini melintasi Maumere, Kalabahi, hingga Banda Neira. Uniknya, perjalanan ini tidak berakhir di satu titik. Pada Januari 2026, Le Jacques-Cartier memulai rute ambisius menyisir pesisir barat Sumatra, mulai dari Bengkulu, Kepulauan Mentawai, Nias, hingga berakhir di Singapura.
Kerja sama logistik dengan PT Pelni Agency dan Pasmaritim memastikan kapal ini bisa bersandar di pelabuhan khusus seperti Ujung Kulon, yang terkenal dengan konservasi alam liarnya.

Standar Baru Kemewahan Ramah Lingkungan
Respon dunia terhadap kehadiran kapal ini sangat positif, dengan rating agregat mencapai 4.8/5 di platform seperti CruiseCritic. Wisatawan global memuji perpaduan antara French fine dining dan tim ekspedisi yang pakar dalam bidang botani serta sejarah lokal Indonesia.
“Ini adalah tentang kedaulatan narasi alam. Le Jacques-Cartier membawa turis kelas atas untuk melihat Indonesia dari perspektif sains dan kenyamanan maksimal,” ungkap ulasan di Trustpilot. Meski beberapa catatan minor muncul terkait terbatasnya fasilitas belanja di atas kapal, hal tersebut justru disukai oleh pelancong yang mencari ketenangan dan keterhubungan dengan laut tanpa gangguan komersialisme yang berlebihan.
Dengan desain ramah lingkungan dan teknologi hemat energi, Le Jacques-Cartier membuktikan bahwa eksplorasi alam liar Indonesia bisa dilakukan tanpa meninggalkan jejak karbon yang merusak, sekaligus memberikan standar baru bagi pariwisata berkelanjutan di tanah air.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.