Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

POLITIK · 20 Jan 2026 00:23 WIB ·

Kongres Perempuan 2026: Melawan Eksploitasi, Merajut Kekuatan Kelas Pekerja


					Kongres Perempuan 2026: Melawan Eksploitasi, Merajut Kekuatan Kelas Pekerja Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA] Di tengah gempuran sistem ekonomi yang kian menekan, kaum perempuan kelas pekerja kembali mencatatkan sejarah baru. Melalui Kongres Perempuan Indonesia 2026 yang digelar di Tavia Heritage Hotel, Jakarta Pusat, Minggu (18/1). Partai Buruh menegaskan bahwa perempuan bukan lagi sekadar pelengkap dalam demokrasi, melainkan motor perlawanan terhadap ketidakadilan struktural.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Kongres V Partai Buruh ini bukan sekadar panggung bagi para elite politik. Sebaliknya, kongres ini menjadi ruang dialektika bagi perempuan buruh, pekerja informal, aktivis, hingga akademisi untuk membedah realitas pahit yang mereka hadapi di lapangan.

Demokrasi yang Dinilai Masih “Memusuhi” Buruh
Salah satu poin krusial yang diangkat dalam kongres adalah kritik tajam terhadap tren kriminalisasi kelompok kritis. Jumisih, dalam pidatonya yang menggetarkan, menyoroti bagaimana anak muda dan aktivis perempuan sering kali menjadi sasaran pembungkaman saat memperjuangkan hak-haknya.

“Mereka yang dikriminalisasi hari ini adalah calon tenaga kerja. Mereka bagian dari kelas pekerja yang harus kita rangkul, bukan justru disingkirkan,” tegas Jumisih di hadapan ratusan peserta yang hadir secara luring maupun daring melalui platform Zoom.

Dari Kalimantan Utara hingga Peradaban Bangsa
Antusiasme gerakan ini terpancar dari kehadiran perwakilan daerah, termasuk pengurus Partai Buruh dari Kalimantan Utara seperti Getrin, Hamidah, dan Antung Isnaniah. Mereka membawa semangat yang sama: “Perempuan Kelas Pekerja Bangkit untuk Peradaban Bangsa.”

Bagi para peserta, pengalaman hidup perempuan pekerja adalah sumber pengetahuan yang lebih otentik daripada sekadar teori di atas kertas. Pengetahuan kolektif inilah yang dirajut menjadi kekuatan untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai “kolonialisme gaya baru”—sebuah sistem yang berlindung di balik fleksibilitas kerja semu namun praktiknya menghisap keringat buruh.

Visi Negara Sejahtera Tanpa Kompromi
Jika Kongres Perempuan 1928 lahir untuk melawan kolonialisme klasik, maka edisi 2026 ini hadir untuk menjawab tantangan eksploitasi pasar modern. Partai Buruh melalui sayap perempuannya menuntut pengakuan sebagai subjek utama pembangunan, bukan lagi sebagai korban kebijakan yang hanya berpihak pada pemilik modal.

Tujuannya jelas dan tanpa kompromi: mewujudkan negara sejahtera (welfare state) yang menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Dari jantung Jakarta, pesan tegas dikirimkan kepada pemangku kebijakan: Perempuan adalah perlawanan, dan mereka siap menentukan arah masa depan bangsa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 101 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pasar Tradisional Sekarat: Jeritan Anak Pedagang Menggugat Khofifah

21 April 2026 - 06:59 WIB

Foto: Hasil Rekayasa Ai, Baret Meluapkan Kemarahan

Lawan Godzilla El-Nino, Sektor Pertanian dan Perikanan Jadi Fokus Utama

13 April 2026 - 18:33 WIB

Ziarah Mohammad Yamin: Misi Senior PP Perkuat Solidaritas Organisasi

12 April 2026 - 06:03 WIB

Slogan Perempuan Mengabdi: Anggi Putri Warnai Kursi BPD Bantarjaya

28 Maret 2026 - 15:22 WIB

Meja Bukber Jadi Ruang Rekonsiliasi Pemuda Papua Barat Daya

19 Maret 2026 - 09:29 WIB

Transparansi Hasil Evaluasi: Hak Mutlak Pendamping Desa Nusantara

17 Maret 2026 - 06:32 WIB

Trending di POLITIK