Takalar, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] – Warisan budaya anyaman lontar di Desa Popo, Kabupaten Takalar, kini tidak lagi dikelola secara konvensional. Melalui intervensi radikal dari delapan perguruan tinggi berbeda di Sulawesi Selatan, para pengrajin lokal dipacu untuk naik kelas. Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diinisiasi Lembaga Riset dan Inovasi Masyarakat Berdaya (RINB) ini menyulap tradisi lama menjadi komoditas ekonomi kreatif yang kompetitif.
Bukan sekadar pelatihan biasa, para akademisi turun tangan memberikan pendampingan komprehensif mulai dari hulu hingga ke hilir. Sebanyak 20 pengrajin terpilih mendapatkan asupan materi yang sangat spesifik: dari efisiensi mesin produksi hingga strategi menembus pasar digital global.
Sinergi Lintas Disiplin: Dari Desain hingga E-Commerce
Keunikan program ini terletak pada keragaman keahlian yang ditawarkan para pakar. Dari sisi estetika, Rosmawati, Ph.D. (Universitas Bosowa) mempertajam desain produk agar bernilai seni tinggi, sementara Zulkifli, M.Si. (Unismuh Makassar) menekankan inovasi yang relevan dengan tren pasar masa kini.
Efisiensi produksi juga menjadi sorotan utama. Ir. Zulharnah, M.T. (Universitas Fajar) memperkenalkan teknologi tepat guna untuk mempercepat proses pembuatan. Di sisi lain, Dr. Zulfikry Sukarno (STIEM Bongaya) dan Hermin, M.M. (Universitas Indonesia Timur) membedah tuntas strategi pemasaran daring agar produk Desa Popo bisa bersaing di etalase e-commerce.
Ekonomi Sirkular: Mengubah Limbah Menjadi Rupiah
Sudut pandang keberlanjutan turut menjadi pilar penting. Menariknya, limbah sisa anyaman tidak lagi dibuang begitu saja. Dra. Darmawati, M.Pd. (Universitas Megarezky) memberikan solusi kreatif dengan menyulap sisa bahan menjadi produk bernilai jual seperti songkok guru dan hiasan dinding.
Langkah ini diperkuat oleh Muh. Haidir, M.Ling. (Universitas Teknologi Sulawesi) yang memastikan proses produksi tetap ramah lingkungan. Pendekatan ekonomi sirkular ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga menjaga ekosistem desa tetap sehat.
Ketua LPM Desa Popo, Muh. Amin Yusuf, menyebut kehadiran para akademisi ini sebagai investasi jangka panjang. Sinergi ini membuktikan bahwa ketika teori kampus bertemu dengan tangan-tangan terampil pengrajin desa, produk tradisional mampu bertransformasi menjadi aset ekonomi modern yang membanggakan.
Informasi SEO
Frasa Kunci Utama: Anyaman Lontar Desa Popo TakalarKeywords: .
Meta Description:
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.