Wonogiri, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Alun-alun Betal Kedungrejo, Nguntoronadi, mendadak berubah menjadi panggung raksasa bagi ribuan warga dari 9 desa dan 2 kelurahan. Bukan sekadar perayaan kemerdekaan, pawai budaya ini menjadi ajang unjuk kekuatan kreativitas desa lewat kostum berbahan daur ulang hingga pameran hasil bumi yang melimpah dari sektor pertanian dan perikanan.
Camat Nguntoronadi, Endrijo Raharjo, menegaskan bahwa karnaval ini adalah simbol keragaman sekaligus upaya mempererat persatuan antarwarga. Seluruh elemen desa, mulai dari pengurus RT, perangkat desa, hingga karang taruna, turun ke jalan untuk memastikan semangat “guyub rukun” tetap terjaga di wilayah Wonogiri.

Sampah Menjadi Seni di Tangan Karang Taruna
Salah satu pemandangan paling mencolok adalah partisipasi pelajar dan pemuda yang mengenakan kostum unik dari kertas, plastik, dan koran bekas. Inovasi ini membuktikan bahwa kesadaran lingkungan mulai tumbuh di tingkat desa, di mana barang sisa diubah menjadi karya seni yang menarik perhatian ribuan pasang mata.
Selain kostum modern, kekayaan tradisi lokal tetap menjadi primadona. Kehadiran kesenian Srandil dan Reog Kerohanian yang ditampilkan oleh peserta menjadi representasi kuat dari harmoni antarumat beragama di tengah masyarakat pedesaan.
Hasil Bumi: Wujud Syukur Kedaulatan Pangan
Peserta pawai tidak hanya membawa atribut budaya, tetapi juga mengarak hasil panen dari perkebunan dan perikanan lokal. Hal ini menjadi pengingat bagi publik bahwa kemerdekaan sejati bagi warga desa juga berarti kedaulatan atas hasil bumi yang mereka kelola secara mandiri.
Acara yang dibuka secara resmi bersama anggota DPRD Kabupaten Wonogiri, Sugeng Ahmadi, ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan tahunan yang berkesan. Lebih jauh, karnaval di Alun-alun Betal ini diharapkan menjadi pematik kolaborasi yang lebih erat antarperangkat desa dalam memajukan potensi wilayah Nguntoronadi ke depan.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.