Ketapang [DESA MERDEKA] – Kepala Desa Istana, Sahlirais, Kecamatan Sandai, Ketapang, Kalimantan Barat, dengan tegas membantah pemberitaan sejumlah media daring terkait dugaan intimidasi sepihak terhadap warganya. Melalui pesan singkat, Sabtu (5/4/2025), Sahlirais menyatakan berita tersebut keliru dan membentuk opini menyesatkan. Ia meluruskan kronologi kejadian yang sebenarnya jauh berbeda.
Sahlirais menjelaskan, perangkat desa tidak pernah menggeledah rumah Pranto, apalagi melakukan intimidasi. Kedatangan mereka bersama beberapa warga ke kediaman Pranto pada Rabu malam (2/4/2025) bertujuan menindaklanjuti keresahan warga. Keresahan ini terkait dugaan keterlibatan Pranto dalam kasus pembobolan rumah Imam beberapa hari sebelumnya, yang merugikan korban sekitar Rp80 juta.
“Warga curiga pada inisial PR karena diduga sering membeli barang curian,” ungkap Sahlirais. Kecurigaan ini bertambah karena Pranto bukan warga asli Desa Istana, meskipun hampir sepuluh tahun tinggal namun belum mengurus administrasi kependudukan.
Menindaklanjuti informasi warga, pihak desa berkoordinasi dengan Polsek Sandai via WhatsApp untuk menyelidiki laporan tersebut. Mengingat maraknya kasus pencurian yang meresahkan, perangkat desa, beberapa warga, dan anggota Polsek Sandai mendatangi rumah Pranto. Tujuan mereka adalah bertanya dan mengklarifikasi dugaan, bukan melakukan penggeledahan tanpa izin.
Setibanya di lokasi, warga meminta Kanit Reskrim Polsek Sandai, Carles, meminta izin Pranto memeriksa rumahnya. Pranto mengizinkan, dan pemeriksaan berlangsung disaksikan perangkat desa serta anggota Polsek Sandai.
Karena tidak ada barang bukti, Desa Istana mengundang Pranto, perwakilan warga, Polsek Sandai, dan Koramil Sandai untuk mediasi Jumat (4/4/2025). Mediasi menghasilkan kesepakatan damai dan saling memaafkan. Namun, sekitar pukul 15.00 WIB, muncul berita menuding aparat desa melakukan intimidasi. Sahlirais kembali menegaskan status kependudukan Pranto yang bukan warga Desa Istana.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Sandai, Carles, mengonfirmasi pihaknya hadir atas permintaan desa. Mereka mengawal warga yang hendak klarifikasi dugaan penadahan dengan Pranto. Carles menambahkan, Pranto masih memiliki berkas perkara penadahan yang perlu pendalaman lebih lanjut.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.