Ternate [DESA MERDEKA] — Setiap Jumat selalu membawa keberkahan tersendiri, sebuah momentum istimewa bagi umat Muslim untuk berkumpul, menunaikan salat, dan merenungkan makna kehidupan. Di Masjid Al-Mirza, Lingkungan Ngade Sone, Kelurahan Toboleu, Kecamatan Kota Ternate Utara, nuansa keberkahan itu begitu terasa pada Jumat, 11 Juli 2025 (15 Muharram 1447 H). Usai salat Jumat, pelataran masjid dipenuhi kebahagiaan dan kehangatan, ketika para ibu majelis taklim Ngade Sone dengan sukacita melayani jemaah dengan berbagai hidangan lezat. Ketupat santan, lontong, dan beragam jenis lauk ikan tersaji, menambah syahdu suasana kebersamaan.

Namun, di balik kegembiraan berbagi, ada pesan mendalam yang disampaikan oleh Khatib Jumat, Hi. Ibrahim Muhammad, S.Pd., M.Pd. Sebagai seorang akademisi terkemuka di salah satu perguruan tinggi di Kota Ternate, beliau menyoroti sebuah tema krusial yang sering luput dari perhatian: pentingnya persiapan menyambut kematian. Khotbahnya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah untaian hikmah yang menggetarkan hati dan mengajak setiap jemaah untuk merenung lebih dalam.
Dunia: Sekadar Persinggahan, Akhirat: Tujuan Sejati
“Kehidupan di dunia ini hanyalah sebatas tempat persinggahan. Kehidupan sejati adalah di negeri akhirat,” ujar Hi. Ibrahim Muhammad dengan suara berwibawa. Pernyataan ini menjadi pengingat yang tajam akan hakikat keberadaan manusia. Sering kali, kita terlalu disibukkan dengan urusan duniawi, berlomba-lomba mengumpulkan harta, mengejar jabatan, dan larut dalam gemerlap kehidupan fana. Padahal, semua itu hanyalah sementara.

Beliau melanjutkan, “Maka alangkah bodohnya jika manusia berlomba-lomba mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta dan menyibukkan diri dengan dunia, sementara akhirat dia lupakan. Padahal kehidupan akhiratlah tempat kita akan kembali.” Kalimat ini menggarisbawahi paradoks dalam kehidupan modern. Manusia cerdas dan bijaksana, menurut beliau, adalah mereka yang mampu melihat jauh ke depan, melampaui batas-batas dunia, dan mempersiapkan diri dengan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan abadi di akhirat. Bekal ini, tentu saja, bukanlah harta benda atau pangkat duniawi, melainkan amal saleh dan ketakwaan.
Bekal Menuju Keabadian: Jangan Tunda, Jangan Lengah
Hi. Ibrahim Muhammad juga menyoroti fenomena yang memprihatinkan. “Banyak sudah yang pergi dengan bekal yang sedikit, bahkan tanpa bekal sama sekali menuju negeri akhirat.” Sebuah kenyataan pahit yang seharusnya menjadi cambuk bagi kita semua. Meskipun sering diingatkan oleh para guru, para ustaz, baik melalui mimbar-mimbar dakwah maupun majelis ilmu, tentang kehidupan abadi negeri akhirat, masih banyak yang abai.
Inilah mengapa momen Jumat berkah menjadi sangat relevan. Ini adalah waktu untuk introspeksi, untuk mengevaluasi kembali prioritas hidup. “Mumpung masih ada waktu, marilah kita berlomba-lomba berbuat amal baik, mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya,” ajak beliau. Seruan ini adalah sebuah undangan tulus untuk tidak menunda lagi, untuk segera memperbaiki diri dan mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Setiap sedekah, setiap ibadah, setiap perbuatan baik, adalah investasi berharga yang akan kita tuai hasilnya di kehidupan setelah mati.
Pesan khotbah Jumat di Masjid Al-Mirza pada Jumat yang penuh berkah ini adalah sebuah pengingat yang tak lekang oleh waktu: “kematian adalah keniscayaan, dan akhirat adalah tujuan akhir. Oleh karena itu, mari manfaatkan setiap detik yang kita miliki di dunia ini untuk menimbun bekal kebajikan, demi meraih kebahagiaan abadi di sisi-Nya,” pungkasnya.

Activity:
•Reporter •Advocate (Kandidat Notaris PPAT) •Konsultan Pendidikan Nawala Education (Overseas Study Advisor – Nawala Education) •Lecturer
Experience:
•Reporter & News Anchor TVRI •Medical Reps. Eisai Indonesia •HRD Metro Selular Nusantara
***
“Penghargaan paling tinggi bagi seorang pekerja keras bukanlah apa yang dia peroleh dari pekerjaan itu, tapi seberapa berkembang ia dengan kerja kerasnya itu.” – John Ruskin


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.