Jembatan Anggai-Airmangga di Obi Rusak Parah, Petani dan Warga Menjerit
Halmahera Selatan, Maluku Utara [DESA MERDEKA] – Kekesalan mendalam kini melingkupi warga di dua desa di Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), yakni Desa Anggai dan Desa Airmangga. Sumber kegelisahan utama mereka adalah kondisi salah satu jembatan penghubung yang telah lama rusak parah dan kini nyaris tidak berfungsi, terutama setelah diterjang banjir.
Jembatan ini sejatinya merupakan urat nadi ekonomi bagi sebagian besar penduduk kedua desa, khususnya bagi para petani yang menggantungkan hidup pada akses tersebut untuk mengangkut hasil bumi mereka.
Sayangnya, kondisi jembatan yang seadanya—hanya beralaskan empat batang pohon kelapa—menunjukkan betapa rentannya infrastruktur vital ini terhadap perubahan cuaca. Kerusakan akibat banjir telah membuat akses petani menjadi terhambat, bahkan terputus, secara signifikan mengganggu aktivitas pencarian nafkah.
Masyarakat merasakan adanya ketidakpedulian yang meluas, seakan-akan keresahan mereka tidak mendapat atensi yang memadai, baik dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan maupun Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Meskipun keluhan mengenai kondisi jembatan ini telah berulang kali disampaikan, hingga kini belum terlihat upaya perbaikan atau pembangunan infrastruktur permanen yang layak.
Fungsi Dasar Pemerintahan dan Tuntutan Keadilan Pembangunan
Kekecewaan warga sangat beralasan jika dikaitkan dengan fungsi esensial pemerintahan. Sebagaimana diketahui, negara dan pemerintah daerah berfungsi meliputi pelayanan, pengaturan, pembangunan, pemberdayaan, dan perlindungan. Tujuan utama dari fungsi-fungsi tersebut adalah memenuhi kebutuhan masyarakat, menjaga ketertiban, memajukan kesejahteraan, serta memberdayakan masyarakat agar mandiri dan terlindungi.
Dalam konteks Desa Anggai dan Airmangga, ketiadaan akses jembatan yang layak secara langsung menghambat tercapainya tujuan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Kalesang Anak Negeri (LSM-KANe), Risal Sangaji, angkat bicara mewakili suara masyarakat yang terabaikan. Kepada awak media, dia mengatakan, kondisi jembatan yang rusak tersebut adalah cerminan minimnya kepedulian dari pihak pemerintah terkait.
“Kami mendesak kepada pihak Pemerintah Provinsi Maluku Utara maupun Pemerintah Daerah Halmahera Selatan agar ada perhatian penuh. Jembatan penghubung antara Desa Anggai dan Desa Airmangga ini harus segera diperbaiki. Akses ini adalah kunci agar masyarakat, khususnya para petani, dapat terlepas dari belenggu kesulitan ekonomi,” tegas Risal Sangaji dengan nada mendesak.
Risal Sangaji menekankan bahwa pemerintah tidak boleh tinggal diam dan harus segera merespons kebutuhan mendasar ini. Jembatan tersebut bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan primer yang menentukan kelancaran roda perekonomian lokal. Jika jembatan tersebut tidak segera dibangun secara permanen, bukan hanya aktivitas pertanian yang terancam, tetapi juga mobilitas sosial dan distribusi logistik antar-desa akan terganggu, yang pada akhirnya dapat memperlambat laju pembangunan di wilayah Obi secara keseluruhan.
Perhatian serius dan alokasi anggaran yang cepat untuk pembangunan jembatan permanen di Desa Anggai dan Airmangga adalah tolok ukur nyata sejauh mana Pemprov Maluku Utara dan Pemkab Halsel benar-benar berkomitmen terhadap kesejahteraan warganya di daerah terpencil.(*)

Activity:
•Reporter •Advocate (Kandidat Notaris PPAT) •Konsultan Pendidikan Nawala Education (Overseas Study Advisor – Nawala Education) •Lecturer
Experience:
•Reporter & News Anchor TVRI •Medical Reps. Eisai Indonesia •HRD Metro Selular Nusantara
***
“Penghargaan paling tinggi bagi seorang pekerja keras bukanlah apa yang dia peroleh dari pekerjaan itu, tapi seberapa berkembang ia dengan kerja kerasnya itu.” – John Ruskin

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.