Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

RAGAM · 20 Jun 2026 20:22 WIB ·

Jejak Sunyi di Lembah Pusako


					Jejak Sunyi di Lembah Pusako Perbesar

Episode 33: Pendidikan Kewirausahaan

Sejak pagi, balai desa terlihat lebih hidup dari biasanya. Kursi plastik disusun rapi, papan tulis besar berdiri di depan ruangan, dan aroma kopi hitam buatan ibu-ibu dari dapur kecil balai nagari memenuhi udara. Hari itu adalah pertemuan pertama program pendidikan kewirausahaan yang dirancang Raka bersama para pemuda dan tokoh masyarakat. Program yang awalnya hanya difokuskan pada generasi muda, kini berkembang menjadi gerakan desa yang melibatkan hampir semua lapisan warga.

Sebelum program dimulai, Raka berdiri di dekat jendela, memperhatikan warga berdatangan. Ada pedagang pisang goreng, petani sayuran, pengrajin anyaman, penjual jajanan pasar, hingga para ibu rumah tangga yang biasanya hanya menjual hasil kebun dalam skala kecil. Mereka datang dengan antusias, sebagian membawa buku catatan, sebagian membawa contoh produk mereka. Seolah-olah hari itu bukan sekadar pelatihan, tetapi juga sebuah harapan baru.

“Pak Raka, apa nanti kita belajar cara mencatat keuangan itu?” tanya seorang ibu yang membawa keripik singkong dalam kantong plastik besar. “Saya selalu bingung menghitung untung rugi.”

“Tentu, Bu. Kita belajar dari dasar,” jawab Raka tersenyum. “Semua mudah kalau dicicil pelan-pelan.”

Ketika jam menunjukkan pukul sembilan, program pun dimulai. Raka membuka pertemuan dengan cerita sederhana tentang perubahan desa dalam beberapa tahun terakhir: bagaimana pertanian harus beradaptasi dengan perubahan iklim, bagaimana generasi muda mulai kembali tertarik pada seni tradisional, dan kini, bagaimana ekonomi desa bisa semakin mandiri melalui kewirausahaan yang dikelola dengan baik.

“Kita tidak perlu menunggu orang kota datang membeli,” ujar Raka sambil menatap peserta satu per satu. “Kita yang harus membuat nilai dari apa yang kita punya. Tanah, hasil kebun, kearifan lokal, keterampilan tangan, bahkan cerita kita sendiri—semua itu bisa menjadi produk bernilai.”

Warga mengangguk-angguk. Sebagian masih ragu, sebagian sudah tidak sabar ingin belajar.

Pelatihan hari itu dimulai dengan hal yang paling mendasar: mengenal potensi diri dan potensi desa. Raka meminta semua peserta menuliskan tiga hal yang mereka kuasai dan tiga hal yang mereka sukai. Hasilnya beragam: ada yang menulis memasak, ada yang menulis berkebun, membuat kerajinan, memelihara ikan, bahkan meracik jamu tradisional.

Setelah itu, mereka berdiskusi bersama kelompok kecil untuk menghubungkan keterampilan tersebut dengan peluang usaha. Misalnya, kelompok ibu-ibu yang pandai memasak mulai membicarakan potensi membuka dapur UMKM kecil yang menyediakan katering sehat berbahan lokal. Para pemuda yang suka membuat konten digital menawarkan diri untuk membantu mempromosikan produk melalui media sosial. Pengrajin anyaman bambu mulai berpikir membuat desain baru yang lebih modern namun tetap mempertahankan karakter daerah.

Ketika diskusi berlangsung, ruangan dipenuhi suara riuh, namun semuanya penuh energi dan optimisme. Raka merasa senang melihat semangat itu. Ia tahu, kewirausahaan bukan sekadar soal menjual barang, tetapi tentang membangkitkan kepercayaan diri sebuah komunitas bahwa mereka mampu menciptakan nilai.

Materi berikutnya adalah manajemen dasar: bagaimana mencatat modal, menghitung biaya, memperkirakan harga jual, dan memahami selisih keuntungan. Banyak peserta mengaku belum pernah melakukan pencatatan meski sudah berjualan bertahun-tahun.

“Kalau untung, saya tahu karena uang di dompet terasa lebih tebal,” kata seorang bapak sambil tertawa. “Kalau rugi, ya terlihat dari wajah istri di rumah.”

Semua tertawa, termasuk Raka. Namun ia mengangkat poin itu dengan serius. “Justru karena kita ingin usaha berkembang, kita perlu paham angka. Bukan untuk rumit-rumit, tapi supaya kita tahu langkah berikutnya.”

Untuk memudahkan, ia membagikan buku catatan sederhana berisi kolom pemasukan dan pengeluaran. Tidak perlu komputer, tidak perlu aplikasi—cukup pena dan buku kecil. Warga tampak antusias. Bahkan ada yang langsung bertanya cara mengisi kolom perhitungan.

Lalu, sesi memasuki pembahasan mengenai inovasi produk. Ini bagian yang paling menarik. Raka mengajak warga melihat potensi pasar. “Coba kita lihat produk yang sudah ada, apa bisa dibuat lebih menarik? Misalnya keripik singkong. Bisa tidak dikemas lebih rapi? Bisa tidak rasa baru ditambahkan? Atau cerita tentang asal singkong ditulis di bungkus?”

Warga mulai membayangkan produk yang lebih bervariasi. Ada yang ingin membuat keripik balado, keripik rasa sereh, atau keripik organik dari singkong tanpa pestisida. Pengrajin anyaman ingin membuat tas mini yang bisa dijual sebagai suvenir. Petani madu ingin membuat madu dalam botol kecil dengan desain label khas desa.

Dari diskusi itu lahir satu kesadaran: desa memiliki banyak kekayaan, hanya belum dikemas dengan baik. Begitu ide menemukan wadah, potensi itu menjelma menjadi peluang nyata.

Beberapa hari setelah pertemuan pertama, warga mulai mencoba berbagai hal di rumah masing-masing. Raka bersama pemuda komunitas sibuk berkeliling melihat progres mereka. Ada yang memperbaiki kemasan, ada yang menguji rasa, ada pula yang mencoba membuat produk versi baru.

Di salah satu rumah, seorang ibu sedang bereksperimen membuat sambal lado hijau dalam botol kecil. “Pak Raka, ini kalau dikirim ke luar kota tahan berapa hari ya?” tanyanya. Raka mengajak seorang teman yang paham teknologi pangan untuk membantu. Mereka menguji cara pengolahan yang aman dan tahan lama.

Di rumah lain, sepasang pemuda membuat konten video tentang cara membuat anyaman bambu. “Kita mulai dengan promosi digital, Pak,” kata mereka. “Supaya orang luar tahu bahwa produk kita tidak kalah dengan produk kota.”

Semangat itu menular dari rumah ke rumah, dari surau ke warung kopi, dari ladang ke dapur. Desa yang dulu terasa tenang kini dipenuhi percakapan tentang harga kemasan, strategi pemasaran, hingga pemilihan logo.

Namun tentu saja, tidak semuanya berjalan mulus. Tantangan muncul ketika sebagian warga merasa kesulitan mengadaptasi cara baru. Ada yang salah menghitung modal, ada yang tidak konsisten mencatat, ada pula yang bingung menangani pesanan pertama saat permintaan mulai datang.

“Pak, saya kewalahan kalau pesanan banyak,” keluh seorang pemuda penjual keripik. “Saya masih pakai cara lama. Kalau pesanan besar, saya tidak yakin bisa tahan kualitasnya.”

Raka menenangkan. “Wirausaha itu belajar sambil berjalan. Yang penting jangan menyerah. Kita bentuk kelompok produksi kalau perlu, jadi tidak kerja sendiri.”

Akhirnya, dibentuklah kelompok-kelompok kecil bagi jenis usaha tertentu: kelompok kuliner, kelompok kerajinan, kelompok pertanian olahan, dan kelompok jasa. Dengan begitu, warga bisa saling membantu, berbagi beban produksi, bahkan berkolaborasi.

Kemudian, komunitas menyelenggarakan kelas pemasaran digital. Sebagian warga yang masih gagap teknologi awalnya merasa minder. “Kami orang tua, Pak Raka. Mana pandai kami pegang-pegang itu,” kata seorang bapak sambil memegang ponselnya canggung.

Namun Raka menyediakan tutor yang sabar. Mereka mengajarkan cara sederhana: memotret produk yang bagus, menuliskan deskripsi singkat, dan mengunggahnya ke media sosial. Tidak perlu rumit. Yang penting konsisten. Dalam beberapa minggu, beberapa produk desa mulai muncul di beranda orang-orang di kota. Respon pun muncul: pesanan kecil, beberapa pesan tanya-tanya, dan bahkan ajakan kerja sama.

Lalu, muncullah gagasan untuk membuat pasar mingguan khusus produk desa. Pada hari Minggu pertama, lapangan desa dipenuhi tenda-tenda sederhana. Ada keripik, madu, kopi kampung, sayur organik, tas anyaman, sambal lado, dan berbagai jajanan tradisional. Musik tradisi mengalun pelan dari pengeras suara, membuat suasana semakin hidup.

Orang-orang dari desa tetangga berdatangan. Anak-anak berlari membawa jajanan, ibu-ibu tawar-menawar sambil tersenyum, dan para pemuda sibuk menjaga lapak masing-masing. Raka melihat dari jauh, memandangi kesibukan itu dengan bangga.

“Ini baru awal,” gumamnya.

Beberapa bulan kemudian, perkembangan makin terlihat. Banyak warga yang mulai memiliki pendapatan tambahan dari usaha kecil mereka. Beberapa malah berhasil mengirim produk ke luar daerah. Desa perlahan berubah menjadi ekosistem kewirausahaan yang mandiri. Tidak ada lagi ketergantungan penuh pada musim panen. Kini peluang lebih beragam dan berkelanjutan.

Dalam sebuah pertemuan evaluasi, seorang ibu berdiri sambil membawa produk sambal botolnya. Suaranya bergetar karena bahagia. “Saya dulu hanya jual di depan rumah. Sekarang sudah kirim ke kota. Bahkan minggu lalu ada yang pesan dari luar provinsi. Terima kasih… karena saya tidak cuma jual sambal. Saya merasa dihargai.”

Peserta lain bertepuk tangan. Itu bukan hanya keberhasilan satu orang, melainkan keberhasilan seluruh desa. Mereka berhasil membangun ekonomi yang bukan sekadar bisnis, tetapi juga rasa percaya diri dan kebersamaan.

Raka menatap wajah-wajah warga yang kini lebih berani dan lebih optimis. Dalam hati ia berkata, “Kewirausahaan itu bukan hanya tentang uang. Ini tentang perubahan cara pandang, tentang keberanian membangun dari yang kecil, tentang mengubah potensi menjadi peluang.”

Dan pada malam itu, ketika semua warga kembali ke rumah masing-masing dengan semangat baru, desa terasa berbeda—lebih hidup, lebih mandiri, lebih siap menatap masa depan. Mereka tahu perjalanan kewirausahaan ini masih panjang, tapi mereka juga tahu satu hal: mereka tidak lagi berjalan sendiri.

Inilah awal dari desa yang belajar berdiri di atas kakinya sendiri. (DA)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Universitas Terbuka, Solusi Pendidikan Bagi Pemuda Desa di Halmahera Selatan

20 Juni 2026 - 09:36 WIB

Mangkir dari Audit Dana Desa, Kades Loleo dan Perangkatnya Terancam Sanksi Pidana!

20 Juni 2026 - 08:25 WIB

HTW Peringatkan Modus TPPO Berkedok Bisnis

20 Juni 2026 - 07:12 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako

19 Juni 2026 - 05:55 WIB

Desa Lancar Bangun Jalan Menuju Pusat Peradaban Literasi

18 Juni 2026 - 07:24 WIB

Endarmi Cup I: Gerbang Prestasi Pemuda Desa Sumatera Barat

17 Juni 2026 - 09:47 WIB

Trending di RAGAM