Deiyai, Papua Tengah [DESA MERDEKA] – Langkah kaki Bupati Melkianus Mote saat memasuki Aula DPRD Kabupaten Deiyai pada Senin (3/3/2025) bukan sekadar seremonial belaka. Membawa “oleh-oleh” semangat dari retret pimpinan daerah di Akmil Magelang, Melkianus langsung mendeklarasikan perang terhadap ego sektoral. Ia menegaskan bahwa era kepemimpinannya adalah era kolaborasi total, di mana pembangunan tidak boleh lagi bersifat diskriminatif atau hanya berpusat pada kelompok tertentu.
Dalam Rapat Paripurna Istimewa serah terima jabatan (sertijab) dari Pj. Bupati Elimelekh Edowai, Melkianus menyampaikan pesan kuat: Deiyai hanya bisa maju jika semua elemen—mulai dari PNS, TNI, Polri, hingga pemuda dan budayawan—bergerak dalam satu irama gotong royong.
“Pembangunan daerah tidak dapat dilakukan oleh satu orang saja. Pembangunan akan berjalan optimal jika semua kelompok membangun hubungan kerja sama yang baik,” tegas Melkianus di hadapan pimpinan DPRD dan tokoh masyarakat.
Visi Strategis 2025-2030: Maju dan Berdaya Saing
Melkianus Mote, yang dilantik langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari lalu, membawa visi besar untuk mengubah wajah Deiyai dalam lima tahun ke depan. Visi utamanya adalah mewujudkan Kabupaten Deiyai yang maju, sejahtera, berkeadilan, dan berbudaya dengan fondasi gotong royong.
Untuk mencapai hal tersebut, ia telah menyusun delapan misi krusial. Beberapa di antaranya adalah percepatan infrastruktur dasar yang merata di seluruh distrik, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), serta penciptaan struktur ekonomi yang mandiri. Melkianus berkomitmen menghadirkan pemerintahan yang transparan, responsif, dan yang paling penting: bersih dari praktik korupsi.
Menghapus Stigma, Merawat Budaya
Salah satu poin out of the box yang ditekankan adalah komitmennya untuk menghadirkan pemerintahan yang setara tanpa diskriminasi. Di tengah dinamika sosial yang ada, Melkianus ingin budaya Deiyai menjadi jati diri yang kuat sekaligus daya tarik kompetitif daerah.
Acara sertijab yang juga dihadiri Wakil Bupati Ayub Pigome ini menjadi momentum penyatuan energi. Melkianus mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor aktif dalam sinergi pembangunan antara pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat. Dengan berakhirnya masa transisi kepemimpinan ini, masyarakat Deiyai menaruh harapan besar pada duet Mote-Pigome untuk membawa perubahan nyata yang menyentuh akar rumput.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.