Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 16 Feb 2026 18:03 WIB ·

Dua Butir Anggur di Betun: Ujian Integritas Makan Gratis


					Menu MBG bagi siswa SMP Kristen Betun dari salah satu SPPG di Kota Betun, (foto istimewa) Perbesar

Menu MBG bagi siswa SMP Kristen Betun dari salah satu SPPG di Kota Betun, (foto istimewa)

Malaka, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] Harapan besar masyarakat Kabupaten Malaka terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini sedang diuji oleh dua butir anggur. Sebuah unggahan di media sosial mendadak viral setelah memperlihatkan porsi buah yang dianggap tidak wajar dalam paket gizi untuk siswa SMP Kristen Betun. Warga pun mulai mempertanyakan: apakah takaran ini sudah memenuhi standar kesehatan atau hanya sekadar menggugurkan kewajiban?

“Buah anggur dua biji kecil-kecil, ini takut negara rugi atau cari keuntungan,” tulis seorang netizen di Facebook yang memicu gelombang kritik dari masyarakat Kota Betun.

Persoalan ini menjadi kontras mengingat MBG adalah program strategis nasional di era Presiden Prabowo Subianto yang dirancang untuk memerangi stunting dan meningkatkan konsentrasi belajar siswa. Namun, di lapangan, implementasi porsi buah tersebut justru memicu polemik mengenai standar kecukupan gizi yang seharusnya diterima oleh para pelajar.

Sorotan pada Satuan Pelayanan Gizi
Informasi yang dihimpun menunjukkan bahwa distribusi paket tersebut dilakukan oleh salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Betun. Sayangnya, hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak penyedia maupun Dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malaka untuk menjelaskan standarisasi menu tersebut.

Absennya klarifikasi ini semakin memperlebar ruang spekulasi di tengah masyarakat. Warga khawatir jika pengawasan lemah, anggaran negara yang besar untuk pemenuhan gizi anak-anak justru menyusut di tengah jalan demi mengejar keuntungan finansial pihak ketiga.

Evaluasi Harus Lebih dari Sekadar Administrasi
Program MBG seharusnya menjadi investasi jangka panjang bagi sumber daya manusia di Malaka, bukan sekadar proyek administratif yang berjalan secara formalitas. Masyarakat mendesak pemerintah daerah untuk segera turun tangan melakukan audit lapangan dan evaluasi ketat terhadap SPPG yang ditunjuk.

“Kita tidak ingin program mulia ini ternoda karena porsi yang ‘pelit’. Gizi anak-anak kita tidak boleh dikompromikan,” ungkap salah seorang warga Betun yang prihatin.

Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah. Transparansi mengenai rincian menu dan pengawasan yang ketat adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan kepercayaan publik agar piring makan siswa benar-benar berisi gizi, bukan sekadar simbolis tanpa substansi.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 89 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Transportasi Desa Indari Disorot, Pemerintah Diminta Beri Solusi

17 September 2026 - 21:04 WIB

Ketika Mesin Digugat: Palagan Manusia di Pilkades Bantarjaya

17 September 2026 - 13:44 WIB

Tegaskan Bebas Tendensi Politik, LSM KANe Malut Buka Suara Soal Monitoring BLT dan Legalitas Organisasi

8 September 2026 - 06:13 WIB

LSM Tantang Inspektorat Halsel Audit Dana Desa Sengga Baru

4 September 2026 - 22:43 WIB

Jurus Baru 20 Desa Wisata Sumbar Pikat Dunia

3 September 2026 - 05:12 WIB

Warga Desa Marikapal Sambut Harapan Baru Terang Listrik PLN dan Penataan Infrastruktur

2 September 2026 - 09:43 WIB

Trending di RAGAM