Malaka, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Malaka selama dua hari terakhir bukan sekadar membawa berkah, melainkan petaka bagi warga di sepanjang jalur Betun–Wederok. Buruknya sistem drainase yang dangkal dan tersumbat menyebabkan air meluap ke badan jalan hingga menginvasi rumah penduduk, Selasa (10/2/2026).
Kondisi ini mengungkap fakta pahit bahwa infrastruktur di jalur penghubung antarkecamatan tersebut gagal berfungsi saat menghadapi cuaca ekstrem. Aliran air yang seharusnya mengalir di bawah tanah justru tumpah ke lantai rumah warga, merusak perabotan, dan melumpuhkan aktivitas ekonomi setempat.
Banjir Langganan Akibat Kelalaian Normalisasi
Hendrik, warga Desa Wederok, mengungkapkan bahwa banjir ini bukanlah fenomena baru, melainkan masalah menahun yang tak kunjung tuntas. Ia menunjuk drainase yang mampet sebagai dalang di balik naiknya debit air ke pemukiman.
“Drainase di sini dangkal dan jarang dibersihkan. Begitu hujan dua hari, air langsung naik karena tidak ada lagi ruang tampung. Kami lelah harus bersih-bersih rumah setiap kali hujan tiba,” keluh Hendrik kepada desamerdeka.id.
Desakan Normalisasi Total kepada Dinas PUPR
Warga kini menagih langkah konkret dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Malaka. Mereka menilai, pembersihan darurat tidak akan cukup selama struktur drainase tidak diperdalam atau dinormalisasi secara menyeluruh.
Selain ancaman bagi hunian, genangan di badan jalan kini menjadi “jebakan” berbahaya bagi pengendara, terutama saat malam hari. Jika normalisasi terus ditunda, kerusakan aspal jalan utama dipastikan akan semakin parah akibat terendam air secara terus-menerus.
Hingga Selasa siang, mendung kelabu masih menyelimuti Malaka. Warga diimbau untuk tetap siaga satu menghadapi banjir susulan, sembari menunggu “kehadiran” pemerintah daerah untuk membenahi saluran air yang telah lama dikeluhkan tersebut.

Bangun Desa untuk Negeri


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.