Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

LINGKUNGAN · 10 Feb 2026 18:46 WIB ·

Drainase Macet, Jalur Utama Betun–Wederok Berubah Jadi Sungai


					Salah seorang warga desa Wederok, sedang melakukan pembersihan sampah yang tersumbat di drainase yang membuat air meluap kedalam rumah, (Foto istimewa) Perbesar

Salah seorang warga desa Wederok, sedang melakukan pembersihan sampah yang tersumbat di drainase yang membuat air meluap kedalam rumah, (Foto istimewa)

Malaka, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Malaka selama dua hari terakhir bukan sekadar membawa berkah, melainkan petaka bagi warga di sepanjang jalur Betun–Wederok. Buruknya sistem drainase yang dangkal dan tersumbat menyebabkan air meluap ke badan jalan hingga menginvasi rumah penduduk, Selasa (10/2/2026).

Kondisi ini mengungkap fakta pahit bahwa infrastruktur di jalur penghubung antarkecamatan tersebut gagal berfungsi saat menghadapi cuaca ekstrem. Aliran air yang seharusnya mengalir di bawah tanah justru tumpah ke lantai rumah warga, merusak perabotan, dan melumpuhkan aktivitas ekonomi setempat.

Banjir Langganan Akibat Kelalaian Normalisasi
Hendrik, warga Desa Wederok, mengungkapkan bahwa banjir ini bukanlah fenomena baru, melainkan masalah menahun yang tak kunjung tuntas. Ia menunjuk drainase yang mampet sebagai dalang di balik naiknya debit air ke pemukiman.

“Drainase di sini dangkal dan jarang dibersihkan. Begitu hujan dua hari, air langsung naik karena tidak ada lagi ruang tampung. Kami lelah harus bersih-bersih rumah setiap kali hujan tiba,” keluh Hendrik kepada desamerdeka.id.

Desakan Normalisasi Total kepada Dinas PUPR
Warga kini menagih langkah konkret dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Malaka. Mereka menilai, pembersihan darurat tidak akan cukup selama struktur drainase tidak diperdalam atau dinormalisasi secara menyeluruh.

Selain ancaman bagi hunian, genangan di badan jalan kini menjadi “jebakan” berbahaya bagi pengendara, terutama saat malam hari. Jika normalisasi terus ditunda, kerusakan aspal jalan utama dipastikan akan semakin parah akibat terendam air secara terus-menerus.

Hingga Selasa siang, mendung kelabu masih menyelimuti Malaka. Warga diimbau untuk tetap siaga satu menghadapi banjir susulan, sembari menunggu “kehadiran” pemerintah daerah untuk membenahi saluran air yang telah lama dikeluhkan tersebut.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 39 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Jumat Bersih Bantarjaya: Melawan Ego Pembuang Sampah “Sambil Lewat”

17 April 2026 - 10:29 WIB

Benteng Hijau Ketapang: Sinergi Relawan Jaga Pesisir Pangkalpinang

4 April 2026 - 18:57 WIB

Papan Larangan Sampah di Desa Sekip Cuma Pajangan

24 Maret 2026 - 15:16 WIB

CCTV Pangkalpinang: ‘Mata Mata’ Elektronik Pemburu Pembuang Sampah Liar

17 Maret 2026 - 13:39 WIB

Ubah Sampah Jadi Berkah Melalui Aturan Baru Sumbar

15 Maret 2026 - 10:57 WIB

Sampah Pesisir Selatan: Dari Beban Lingkungan Jadi Cuan

13 Maret 2026 - 20:42 WIB

Trending di LINGKUNGAN