Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 21 Agu 2023 12:00 WIB ·

Desa Mandiri Bukan Akhir Tugas, Jati Diri Pendamping Diperkuat


					Desa Mandiri Bukan Akhir Tugas, Jati Diri Pendamping Diperkuat Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Ada anggapan keliru bahwa jika sebuah desa sudah menyandang status “Mandiri”, maka peran pendamping desa tidak lagi diperlukan. Namun, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar, mematahkan mitos tersebut. Ia menegaskan bahwa semakin mandiri sebuah desa, masalah yang dihadapi justru semakin kompleks, sehingga jati diri dan integritas pendamping harus semakin diperkuat.

Dalam arahannya pada acara Refreshment Training Penguatan Pegiat Desa P3PD di Semarang, Minggu (20/8), menteri yang akrab disapa Gus Halim ini menekankan bahwa desa mandiri tidak lagi sekadar mengurusi infrastruktur dasar seperti jalan desa atau irigasi. Fokus mereka bergeser ke arah pertumbuhan ekonomi dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

“Desa mandiri akan semakin membutuhkan keberadaan pendamping desa karena tantangannya bukan lagi soal fisik, tapi soal bagaimana mengelola dana desa untuk dampak sosial-ekonomi yang lebih luas,” ujar Gus Halim.

Integritas: Musuh Terbesar Adalah Rasa Malas
Gus Halim menyoroti empat pilar utama yang wajib dimiliki pendamping: integritas, kapabilitas, elektabilitas, dan kapasitas. Menariknya, ia menyebutkan bahwa urusan teknis seperti pengisian daily report atau manajemen dana desa sebenarnya adalah hal yang mudah jika dikerjakan dengan tekun.

“Yang bilang daily report itu susah, sebenarnya ya karena malas saja,” tegas mantan Ketua DPRD Jatim tersebut. Baginya, tantangan tersulit bukanlah soal teknis administrasi, melainkan membangun jati diri. Pendamping yang memiliki jati diri kuat akan tahu cara menempatkan diri sehingga keberadaan mereka benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Uji Persepsi Publik pada 2024
Untuk membuktikan efektivitas peran pendamping di lapangan, Kemendes PDTT berencana melakukan survei persepsi masyarakat pada Maret atau April 2024. Survei ini bertujuan mengukur sejauh mana warga desa memahami dan merasakan manfaat kebijakan dana desa.

Hasil survei yang positif nantinya akan menjadi “senjata” untuk meyakinkan pemerintahan selanjutnya bahwa pendamping desa adalah aset permanen yang tak tergantikan. Reputasi positif ini akan diglorifikasi sebagai bukti nyata kerja keras para pendamping di lapangan.

Sementara itu, Kepala BPSDM Kemendes PDTT, Luthfiyah Nurlaela, menambahkan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari persiapan besar program P3PD 2023. Sebanyak 1.752 peserta mengikuti sesi di Semarang ini, dari total target 103.819 penggiat desa di seluruh Indonesia. Dengan memperkuat kapasitas para pengajar, diharapkan pengelolaan dana desa di masa depan tidak hanya tertib administrasi, tapi juga cerdas secara substansi.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 40 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sumpah Pemuda di Obi: Konsolidasi 200 Armada Lokal Melawan Ketimpangan Logistik Desa

29 Oktober 2026 - 12:59 WIB

Menantang Ombak Pesisir Domas Lewat Racikan Probiotik Kampus

22 Oktober 2026 - 15:48 WIB

Gadai Bawah Tangan: Benturan Transaksi Informal dengan Hukum Formal

21 Oktober 2026 - 18:50 WIB

Tragedi Desa Sugi: Trauma Mafia Tanah dan Apatisme Nelayan Mangrove

12 Oktober 2026 - 21:28 WIB

Pasir Pantai Merah Putih Obi Dikeruk Ilegal, APH dan Pemda Didesak Bertindak

3 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Bertahan di Ruas Kaputusan: Nestapa dan Resiliensi Warga

29 September 2026 - 16:06 WIB

Trending di RAGAM