Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR PEMDA · 11 Mar 2026 09:18 WIB ·

Dana Desa DIY Dipangkas: Mesin Pembangunan Kalurahan Mendadak Mogok


					Wakil Ketua DPRD DIY, Umaruddin Masdar Perbesar

Wakil Ketua DPRD DIY, Umaruddin Masdar

Daerah Istimewa Yogyakarta [DESA MERDEKA] Harapan membangun Indonesia dari pinggiran sedang diuji di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kebijakan pemangkasan dana desa yang drastis memaksa para lurah “memutar otak” hingga titik nadir. Tidak main-main, sejumlah kalurahan yang sebelumnya mengelola anggaran di atas Rp2 miliar, kini harus bertahan hidup hanya dengan sisa dana sekitar Rp300 juta.

Anjloknya anggaran ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi jaring pengaman sosial dan infrastruktur dasar di tingkat pedukuhan. Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang menjadi tumpuan warga miskin serta proyek-proyek padat karya terpaksa dikurangi volumenya secara signifikan.

Degradasi Semangat Membangun dari Bawah
Wakil Ketua DPRD DIY, Umaruddin Masdar, mengungkapkan bahwa keluhan para lurah hampir merata di seluruh kabupaten di DIY. Menurutnya, pemotongan ini telah mengoreksi semangat otonomi desa dalam menentukan prioritas pembangunannya sendiri.

“Ibarat mobil yang tadinya bisa lari kencang 100 kilometer per jam, sekarang dipaksa berjalan maksimal 40 kilometer per jam. Semangat membangun dari bawah mengalami degradasi yang luar biasa,” ujar Umar dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026).

Efek Domino di Tingkat Pedukuhan
Dampak yang paling dirasakan masyarakat adalah pemangkasan program-program skala mikro di level pedukuhan. Penyesuaian anggaran yang mencapai miliaran rupiah per desa membuat lurah harus melakukan prioritas ulang yang menyakitkan:

  • Penyusutan Penerima BLT: Nilai dan kuota bantuan sosial berkurang drastis.
  • Infrastruktur Terbengkalai: Pembangunan jalan lingkungan dan irigasi desa banyak yang dipangkas volumenya.
  • Kemandirian Desa Terkoreksi: Desa kehilangan instrumen keuangan utama untuk mengeksekusi kebutuhan spesifik warga lokal.

Mencari Jalan Keluar ke Pusat
DPRD DIY saat ini tengah menghimpun data rinci mengenai dampak kebijakan ini untuk kemudian dibawa ke pemerintah pusat. Langkah koordinasi terus diperkuat agar aspirasi pengembalian pagu dana desa bisa menjadi pertimbangan dalam kebijakan fiskal nasional mendatang.

Tanpa adanya evaluasi terhadap pemotongan ini, dikhawatirkan kesenjangan pembangunan antara kota dan desa akan kembali melebar, serta target pengentasan kemiskinan di wilayah DIY akan terhambat.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Mahyeldi: Integritas Bung Hatta Harus Menjadi Teladan Bagi Pemimpin Masa Depan

13 Agustus 2026 - 21:43 WIB

Sisi Lain Insentif Rp3,5 Miliar Sumbar: Piala Milik Provinsi, Keringat Milik Nagari

13 Agustus 2026 - 21:36 WIB

Sekda Provinsi Sumbar Beri Waktu Sepekan, 21 OPD Diminta Segera Susun Rencana Aksi Percepatan NCH

13 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Diplomasi Dapur Nagari: Filosofi & Rahasia Padang Bajamba 2026

12 Agustus 2026 - 11:10 WIB

Mengunyah Angin di GOR Agus Salim: Kritik Narasi Narkoba Evi Yandri

12 Agustus 2026 - 08:58 WIB

Perangkat RT di Padang Keluhkan Minimnya Edukasi Hukum Warga

10 Agustus 2026 - 15:30 WIB

Trending di KABAR PEMDA