Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 12 Agu 2024 09:29 WIB ·

Dana Desa Bukan Cuma Aspal, Tapi Cegah Stunting


					Dana Desa Bukan Cuma Aspal, Tapi Cegah Stunting Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA]Arah pembangunan desa di Indonesia mulai bergeser dari sekadar urusan semen dan aspal. Perang melawan malnutrisi kronis atau stunting kini resmi dipindahkan ke garis depan: komando komunitas pedesaan. Melalui diskusi SDGs Desa Episode 351 yang digelar Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, pemerintah menegaskan bahwa kunci utama memutus rantai stunting berada di tangan warga dan kader lokal, bukan sekadar instruksi dari pusat.

Pendekatan berbasis desa ini diambil untuk membongkar akar masalah yang selama ini mengendap di wilayah pelosok, mulai dari kemiskinan, kerawanan pangan, hingga mampetnya akses layanan kesehatan. Strategi ini tidak lagi memakai pola seragam dari atas, melainkan bertumpu pada empat pilar lokal:

  • Aksi Kader Lokal: Menggerakkan warga secara aktif untuk edukasi gizi, promosi ASI eksklusif, dan perbaikan sanitasi lingkungan.
  • Anggaran Masuk Dokumen Desa: Memasukkan program intervensi gizi secara legal ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes).
  • Kerja Keroyokan (Multisektoral): Menghubungkan bidan desa, perangkat desa, petugas puskesmas, dan organisasi lokal dalam satu irama kerja.
  • Sensus Data Riil: Menggunakan data valid dari posyandu dan kader pembangunan manusia untuk memetakan balita yang butuh penanganan cepat.

Langkah ini menjadi pembuktian konkret dalam mengejar target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Desa, terutama dalam menghapus kemiskinan dan menjamin hidup sehat tanpa memandang gender.

Tentu saja lapangan tidak selalu mulus. Perangkat desa masih membentur tembok klasik: kesenjangan ekonomi yang dalam, kepastian kesinambungan dana desa untuk program non-fisik, serta kapasitas kader kesehatan yang belum merata. Namun, komitmen politik ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia sedang menyusun cetak biru baru. Mengatasi stunting langsung dari dapur-dapur pedesaan adalah model nyata bagaimana investasi manusia dimulai dari wilayah pinggiran.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 253 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

LPM dan Ikhtiar Menumbuhkan Partisipasi dari Akar Rumput

18 Juli 2026 - 22:42 WIB

Jelang Musim Tanam, Warga Kedungwaringin Gelar Hajat Bumi

16 Juli 2026 - 15:18 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 36: Kolaborasi Seni dan Teknologi

8 Juli 2026 - 13:54 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako

4 Juli 2026 - 13:34 WIB

Ruas Jalan Desa Rusak Parah, Warga Loleo Berharap Perhatian Bupati Halmahera Selatan

3 Juli 2026 - 10:37 WIB

Bertaruh Nyawa di Tengah Laut: Potret Darurat Kesehatan Warga Desa Loleo dan Polindes yang Sekarat

30 Juni 2026 - 12:30 WIB

Trending di RAGAM