Tulungagung, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Di tengah gempuran pasar modern yang kian masif, perwakilan desa se-Kecamatan Sumbergempol memilih untuk memperkuat “benteng” ekonomi mereka sendiri. Melalui Musyawarah Antar Desa (MAD) Tahunan di Balai Desa Bukur, Sabtu (7/2/2026), Bumdesma Sumbergempol LKD resmi menyusun peta jalan baru: bertransformasi dari sekadar bertahan menjadi pelari kencang di tahun 2026.
Camat Sumbergempol, Heru Junianto, menegaskan bahwa Bumdesma bukan sekadar lembaga keuangan, melainkan sebuah “kapal besar” yang kesejahteraannya harus dirasakan hingga ke pelosok desa. “Jika kapal ini melaju kencang, maka seluruh warga di tiap desa harus ikut merasakan ombak kesejahteraannya,” tegasnya saat membuka forum konsolidasi yang dihadiri jajaran Dinas PMD, Kepala Desa, hingga perwakilan Pokmas tersebut.
Bedah Dapur: Ketergantungan pada Dana Bergulir
Dalam laporan pertanggungjawaban tahun buku 2025, Direktur Bumdesma, Heru Siswanto, memaparkan data yang cukup mencolok. Saat ini, “napas” utama pendapatan organisasi masih sangat bergantung pada sektor Dana Bergulir Masyarakat (DBM).
Secara teknis, DBM menyumbang Rp369.880.000 (90%) dari total pendapatan bruto, sementara sektor Non-DBM atau dividen baru memberikan kontribusi sebesar Rp39.014.868 (10%). Angka ini menunjukkan tantangan besar bagi manajemen untuk melakukan diversifikasi usaha agar tidak hanya bergantung pada satu sektor saja di masa depan.
Strategi 2026: Digitalisasi dan Inovasi
Meski performa tahun lalu dinilai stagnan namun stabil, tuntutan untuk melakukan modernisasi mulai disuarakan. Ketua Dewan Penasihat Bumdesma, Juni, mendorong jajaran direksi untuk meninggalkan pola kerja lama dan mulai merambah dunia digital.
“Profesionalisme tidak boleh berhenti di sini. Kita harus mulai melirik digitalisasi dan penguatan jejaring pasar yang lebih luas,” ujar Juni. Langkah digitalisasi ini diharapkan mampu menekan efisiensi sekaligus memperluas jangkauan pasar produk-produk desa ke tingkat nasional.
Kemandirian sebagai Harga Mati
Nada tantangan juga datang dari Dinas PMD Tulungagung yang diwakili oleh Eni Wahyuningsih. Ia berharap Bumdesma Sumbergempol mampu menjadi role model nasional dalam hal akuntabilitas. Forum MAD tahun ini membuktikan bahwa demokrasi ekonomi di Sumbergempol masih sangat hidup; suara dari desa terkecil tetap memiliki bobot yang sama dalam menentukan kebijakan strategis.
Dengan selesainya musyawarah ini, Bumdesma Sumbergempol LKD kini menatap tahun 2026 dengan optimisme baru. Fokus utamanya bukan lagi sekadar memburu laba bersih, melainkan memastikan sirkulasi modal tetap berputar di tangan warga demi mewujudkan kemandirian ekonomi sejati.

jurnalis yang berusaha menjaga Marwah

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.