Pesawaran, Lampung [DESA MERDEKA] – Harapan warga Desa Bangunsari untuk sejahtera melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Karya Makmur mendadak sirna. Sebanyak 14 ekor sapi yang seharusnya menjadi aset ekonomi produktif dilaporkan hilang tanpa jejak. Kasus ini kini memicu gelombang protes warga setelah aroma dugaan korupsi yang melibatkan oknum perangkat desa mulai tercium ke permukaan.
Ironisnya, sapi-sapi tersebut merupakan bantuan dari program Dana Gerakan Desa Ikut Sejahtera (Gadis) dan Dana Desa. Dengan estimasi kerugian mencapai ratusan juta rupiah, hilangnya belasan hewan ternak ini dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan masyarakat desa.
Modus Operandi “Jual Senyap” Aset Desa
Investigasi di lapangan mengungkap pola yang mengejutkan. Aset desa yang sebelumnya dititipkan kepada warga untuk dipelihara (sistem gadai), tiba-tiba ditarik kembali secara sepihak oleh oknum pengurus. Sumedi, salah satu warga terdampak, mengaku sapi yang ia pelihara diambil dan dijual oleh Direktur BUMDES, Agus Riyanto.
Aliran uang hasil penjualan tersebut makin memperkeruh suasana. Agus Riyanto mengklaim dana telah diserahkan kepada bendahara desa saat itu, Ari Tri Susanto. Sementara itu, Ari mengakui adanya penjualan tersebut, namun berkilah bahwa uangnya digunakan untuk keperluan operasional kantor desa—sebuah langkah yang melanggar prosedur pengelolaan aset BUMDES.
Jejak Kades yang Kian Memudar
Kesaksian pengurus BUMDES lainnya, Yatno dan Agus Kurniawan, secara langsung mengarah pada keterlibatan Kepala Desa Bangunsari, Hendrik Cahyono. Keduanya menyebut beberapa ekor sapi diambil langsung atas instruksi sang Kades.
Mantan pengurus BUMDES, Lehan, menambahkan bahwa kekacauan ini bermula sejak adanya reorganisasi pengurus yang dinilai tidak transparan pasca-Hendrik menjabat. Sejak dugaan penyelewengan Dana Desa tahap 2 tahun 2024 mencuat ke publik, sang Kades dilaporkan jarang terlihat di kantor desa, seolah menghindari sorotan warga dan media.
Masyarakat Menuntut Keadilan
Kasus hilangnya 14 ekor sapi ini telah resmi dilaporkan ke pihak berwajib dan kini memasuki tahap penyelidikan intensif. Warga Desa Bangunsari kini hanya bisa menunggu kepastian hukum. Bagi mereka, ini bukan sekadar soal sapi yang hilang, melainkan tentang integritas kepemimpinan yang seharusnya menjaga, bukan malah “memangsa” aset rakyat.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.