GGGI dan Pemkab Bulungan Latih Perangkat Desa Susun RPJMDes Berbasis Keberlanjutan dan Pelestarian Mangrove
Bulungan, Kalimantan Utara [DESA MERDEKA] – Pemerintah Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, memperkuat komitmennya terhadap pembangunan hijau dengan menggelar pelatihan intensif bagi empat desa pesisir. Kegiatan yang diselenggarakan berkolaborasi dengan Global Green Growth Institute (GGGI) Indonesia ini bertujuan meningkatkan kapasitas perangkat desa dan unsur masyarakat dalam menyusun perencanaan pembangunan desa yang berbasis keberlanjutan dan adaptif terhadap tantangan wilayah pesisir.
Bupati Bulungan, Syarwani, menegaskan bahwa pelatihan ini selaras dengan paradigma pembangunan daerah yang kini menekankan aspek ramah lingkungan dan keberlanjutan. Empat desa yang berpartisipasi adalah Sekatak Buji, Sekatak Bengara, Salimbatu, dan Liagu.
“Pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen kita untuk memastikan pembangunan desa berjalan dengan prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan,” kata Syarwani.

Fokus Materi: Revisi RPJMDes dan Pelestarian Mangrove
Pelatihan ini tidak hanya mempersiapkan revisi dokumen perencanaan desa sesuai dengan perubahan Undang-Undang Desa, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan membaca tantangan unik di wilayah pesisir.
Materi yang diberikan mencakup integrasi gender dan inklusi sosial, pemanfaatan potensi lokal, pengelolaan mangrove yang berkeadilan, hingga penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) berbasis keberlanjutan. Fokus pada mangrove menjadi krusial karena wilayah pesisir Bulungan sangat bergantung pada ekosistem ini.
Syarwani menekankan pentingnya pelestarian mangrove sebagai benteng ekologis yang harus dijaga bersama. Ia mengakui bahwa meskipun banyak kawasan mangrove berada dalam area perhutanan, masyarakat pesisir harus tetap memiliki ruang hidup. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang memberikan akses sekaligus perlindungan, memastikan manfaat ekonomi dapat diambil tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem.
“Manfaat ekonominya boleh diambil, tetapi kelestarian mangrove tidak boleh dikorbankan,” tegasnya.

Masyarakat Pesisir Penjaga Utama Ekosistem
Bupati Syarwani menyoroti peran sentral masyarakat desa sebagai penjaga utama ekosistem pesisir. Ia meyakini bahwa masyarakat yang hidup berdampingan langsung dengan kawasan tersebut adalah pihak yang paling memahami cara terbaik untuk merawat mangrove.
“Masyarakat desa adalah yang paling memahami cara merawat mangrove karena mereka hidup berdampingan langsung dengan kawasan tersebut,” ujarnya.
Kemajuan Bulungan secara keseluruhan sangat ditentukan oleh kemajuan seluruh 10 kecamatan, termasuk desa pesisir yang merupakan penopang utama ekonomi daerah. Sebagai bagian dari pembangunan ekonomi hijau, ia juga mengingatkan tentang pentingnya program One Village One Product (OVOP) yang telah berjalan di Desa Siandau dan Liagu.
Pelatihan ini diharapkan dapat menanamkan kesadaran jangka panjang. Syarwani menutup sambutannya dengan pesan inspiratif, bahwa menjaga mangrove saat ini merupakan “amal jariah untuk anak-anak kita,” karena manfaatnya akan dirasakan oleh generasi mendatang.
Redaksi Desa Merdeka
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.